Jumat, 22 Juli 2011

Pameran Bangunan Peka

Bangunan Peka
Arsitektur Tanggap Lingkungan
Museum Nasional Indonesia
JL. Merdeka Barat no.12 Jakarta Pusat
6-20 Juli 2011



Pameran Bangunan Peka berfokus pada strategi desain yang responsive secara lingkungan dan social sebagai sebuah interaksi antara lanskap, manusia dan arsitektur.  Bangunan peka adalah sebuah bentuk arsitektur reaktif yang berurusan dengan pemanfaatan yang efisien atas ruang, material, konstruksi, energy, waktu dan kesenangan.  Reaktif dalam hal ini berarti perilaku yang responsive terhadap perubahan keadaan seperti cuaca, iklim, acara, frekuensi penggunaan, atau profil pengguna.  Seraya memanfaatkan solusi teknologi sederhana tradisional, teknik penyelubungan dimensi-dimensi baru dari perilaku responsive.

Minggu, 17 Juli 2011

Tentang SANGKAR KLUSTER

Mari meluangkan waktu sejenak membaca tema Kompas Minggu, 17 Juli 2011. Jika kemakmuran, pembangunan pasca kehancuran Perang Dunia 2 & keinginan hidup yang tertib-baik-mapan melahirkan generasi Baby Boomers dua dekade kemudian yang berciri 'anti kemapanan' (yang berpengaruh pada musik, fashion, cara pandang, religiositas, & produk budaya lainnya) di Dunia Barat khususnya Amerika Serikat, kira-kira apa yang akan terjadi dengan Indonesia dua dekade mendatang? Apa lebih individualistik? Lebih terbuka pemikirannya? Apa Indonesia lebih kokoh? Pola masyarakatnya? Kegiatan ekonominya? Produk budaya yang seperti apa yang muncul? Dampak ke arsitektur-desain-dsb? Semoga sempat kita mereka-rekanya. Selamat membaca.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Mencari Bahagia di Sangkar Kluster

Perumahan kluster atau tertutup hanya menggunakan satu pintu untuk masuk dan keluar, seperti di Perumahan Bintaro View, Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (15/7)
Oleh: Nur Hidayati


Rasa aman, kenyamanan, dan privasi adalah kemewahan yang ingin dikejar lewat permukiman kluster. Namun, keterpisahan dengan masyarakat sekitar nyatanya kerap mengundang kesepian. 

Jumat, 15 Juli 2011

Menikmati (Gagasan) 'RUMAH TANPA PINTU'


Pertama-tama, selamat atas terselenggaranya Pameran dan juga diskusi yang menyertainya terkait judul ‘Rumah Tanpa Pintu’ di Galeri Dia.Loe.Gue, Kemang, Jakarta.

Kemudian salut luar biasa untuk para kontributor pameran yang telah mau meluangkan waktu, memeras otak, melahirkan gagasan-gagasan, mengerahkan segenap energi dan materi untuk tak hanya menghasilkan gambar tapi juga model maket, bahkan hingga berbagai sarana pendukung yang tidak main-main pemasangannya yang akhirnya membuat pameran ini begitu layak untuk dikunjungi.

Melalui beberapa karya bisa kita cermati proses berpikir dan beraksi dalam upaya menjawab pertanyaan ’iseng’ (bagaimana jika) Rumah Tanpa Pintu (?). Dari beberapa sajian karya bisa kita rasakan keseriusan mengolah ide. Tidak asal main pasang, main sok seni. Tapi benar-benar proses ilmiah. Berbasis ujicoba dan data. Bahkan perlu terjun langsung ke lapangan, mengamati-mengikuti persoalan nyata kaum marjinal, menjadikannya landasan isu bagi si arsitek yang mungkin (dan semoga saja) berharap-harap karya eksperimen ini tidak berhenti sebatas pagelaran pameran tapi benar-benar bisa dimanfaatkan bagi mereka yang marjinal korban pembangunan kota. Harus diapresiasi upaya-upaya pembuktian bahwa arsitektur tidak hanya (melulu) sibuk bersenang-senang dengan dunianya sendiri di studio ‘menara gading’ yang nyaman.

Silakan menyaksikan langsung karya-karya tersebut yang akan dipamerkan sejak tanggal 1 hingga 20 Juli 2011. Harap maklum jika muncul ke-iri-an dari beberapa teman yang tidak bisa hadir langsung yang dalam hatinya akan bertanya-tanya: Mengapa hal-hal begini selalu berlangsung di Jakarta dan sekitarnya? (ya, mengapa selalu Jakarta dan sekitarnya yang penuh dengan kegiatan-kegiatan berarsitektur serba menarik? Ayo teman-teman kota lain, bagaimana ini?)

Untuk itu kehadiran beberapa foto berikut ini mohon untuk dilihat sebagai upaya berbagi ’kemerdekaan’, menjawab keingintahuan bagi mereka yang tak bisa hadir tanpa bermaksud sedikitpun mengurangi niatan bagi mereka yang bisa untuk hadir (ya, akan jauh lebih nikmat jika hadir dan merasakan langsung aura pemikiran karya-karya ini). Semoga pihak penyelenggara berkenan.




(yang pada 6 Juli 2011 beruntung bisa hadir menikmati langsung)

Minggu, 10 Juli 2011

Rempah Rumahkarya-Surakarta l Arsitek Paulus Mintarga




Sebuah catatan kecil

tentang bangunan rempah rumahkarya

Sekumpulan batang baja bekas dalam berbagai dimensi panjang dipakai untuk menyusun rangka utama. Jika diperhatikan, rangkaian terbentuk karena taat pada kondisi kemiringan masing-masing ujung batang tanpa harus memotong. Dengan logika struktur yang diperhitungkan dengan berani munculah profil yang provokatif atas konsekwensi material yang ada. Sebuah demonstrasi proses kreatif pembentukan ruang yang cerdas. Berserah pada material yang ada untuk kemudian mengrti cara memperlakukannya.
Sikap ini terlihat berlanjut  pada penyelesaian bagian bangunan lainnya. Kadang terlihat sebagai kumpulan ketidaksengajaan. Namun ini merupakan proses desain yang mengalir bersamaan dengan kesadaran material yang ada. Ibaratnya adalah komposisi musik yang dimainkan di atas panggung dengan penuh improvisasi, bukan lagu yang direkam dalam studio.
Sikap lain yang terlihat adalah mencoba. Lantai bambu dengan finishing plaster semen adalah keputusan berani yang dilakukan dengan sadar mengingat perbedaan karakter setiap material dan beban bergerak yang akan terjadi. Penyelesaian yang lain dengan menambahkan anyaman bambu membuktikan upaya mencoba yang terus belangsung dalam prosesnya.
Membaca keseluruhan kompleks  bangunan ini, segera tersirat suatu semangat kreativitas. Sebuah hal yang mestinya baik untuk kelanjutan penggunaan bangunan ini. Meski pada awalnya dimaksudkan sebagai gudang penaung material, pada perjalannya berubah menjadi bengkel kerja untuk berbagai kegiatan kreatif.
Sepertinya ada hikmah dari perubahan fungsi tadi. Pada hari-hari terakhir  didapati peluang tempat ini menjadi lebih terbuka untuk berinteraksi dengan warga masyarakat sekitar. Ternyata ada beberapa perkumpulan kesenian dan tempat ini membuka diri untuk kegiatan mereka. Sebuah hal yang tidak akan terjadi dengan sebuah gudang material.
Barangkali memang seperti itulah jalan yang telah dan akan dilalui. Bergerak mengalir. Bernafas Improvisasi yang terbuka dan tidak pernah selesai. Sebuah harapan untuk menjadi tempat yang baik bagi para peminat kerja kreatif di waktu-waktu yang akan datang.

Adi Purnomo, 23 Juni 201


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Visi :


Rempah rumahkarya, tuk ing omah sumrambah , house of oase. Rumah yang dengan semangat gotong royong menjadi sumber inspirasi, inovasi, kreatifitas dan pemberdayaan dalam meningkatkan kualitas produktifitas ( terukur ) untuk meningkatkan kesejahteraan bersama.

Misi :


 Merupakan rumah karya bagi anak bangsa

      Pemberdayaan lokalitas dan potensi bangsa Indonesia sebagai bangsa pengrajin dengan cita rasa keanekaragaman budaya yang tinggi

           Wadah bagi profesional dan komunitas-komunitas kreatif untuk saling berbagi, menguatkan dan bersinergi dalam tindak nyata

      Rumah yang memiliki organ creative outlet untuk memadarkan produk “ Good Indonesian Design “ ke pasar dunia

      Rumah untuk residensi dan edukasi


Sabtu, 09 Juli 2011

Dari Pameran Arsitektur: Hidup dan Karya C.P. Wolff Schoemaker

Terlambat satu jam untuk menghadiri Pembukaan Pameran Arsitektur: 'Hidup dan Karya C.P. Wolff Schoemaker', Selasa, 5 Juli 2011, 19.00 WIB yang bertempat di Erasmus Huis, Jl. H.R.Rasuna Said Kav. S-3 Kuningan - Jakarta, akibat kemacetan Jakarta. Namun pembukaan masih sangat ramai mulai dari pengunjung berumur berjas resmi/berbatik-batik hingga anak-anak muda berkaos kasual-berjins ria. Lengkap dari bule-bule hingga pribumi tulen (kata 'pribumi' memang patut dipertanyakan dalam era global kini). Kendaraan memenuhi sisi jalan, mulai dari roda empat supermewah hingga roda dua sangat sederhana. Cukup panjang. Cukup sulit cari parkir. Makanan, minuman, juga bir tersaji melimpah. Juga berbagai brosur, termasuk majalah Babyboss dan Concept, bebas diambil. Semua gratis. Tidak dibatasi undangan tertentu.
Rentang periode pameran ini cukup panjang yaitu dari 5 Juli hingga 9 September 2011. Namun harap cermat mengenai prosedur keamanan di pintu masuknya. Lebih ketat daripada di bandara.

Untuk yang tidak (akan) bisa menghadiri pameran ini silakan saja melihat beberapa foto di bawah ini yang diambil secara bebas.