Tampilkan postingan dengan label kartun/komik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kartun/komik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Juli 2012

Menuju Aksi Perdana Sanur Community Market




Pasar organik 'Sanur Community Market'.
Dimotori teman-teman Healthy Food Healthy Living 
bekerja sama dengan Satvika Bhoga dan Akarumput.

Pasar organik ajang di mana komunitas-komunitas pangan dan lingkungan 
serta petani-petani organik lokal menjajakan produk, program, 
dan kisah di balik itu semua kepada masyarakat luas.

Penuh harap dari kegiatan ini terjalin sinergi antar komunitas kreatif peduli lingkungan.
Penuh harap pula ada keberlanjutan aksi-aksi dan agenda yang sudah berlangsung.
Dan jelas penuh harap ada apresiasi dan peningkatan partisipasi dari masyarakat awam dan sekitar.

Apa yang dilakukan teman-teman ini hanya langkah kecil 
dalam gegap gempita gerak Bali 
tetapi tetap bermakna besar bagi keberlanjutan kehidupan Bali yang lebih sehat.
Langkah kecil yang dimulai dari pojokan Sanur. 
Juga pojok-pojok lain Nusantara.

Salut untuk langkah perdana teman-teman 'Sanur Community Market'!

Mari kita terus ber-'gerak' dan berkarya di mana-kapan pun kita berada!

- Errik Irwan -
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------








I
I
I







Sabtu, 05 November 2011

Vote Robin Lim For CNN Hero 2011


Di saat kita ramai-ramai mempeributkan sesuatu yang remeh temeh
dan juga di tengah ramai-ramai berita tentang keterpurukkan negeri ini
ada beberapa sosok yang terus bergerak,
senyap dalam sepi,
berbuat sesuatu untuk sesamanya yang membutuhkan.

Sosok-sosok ini bergerak karena dorongan hati.
Tulus, sungguh-sungguh, mengalir wajar, tak berharap gegap gempita.
Kesungguhannya bisa diukur dari waktu,
dari seberapa lama ia telah abdikan dirinya.
Mungkin pula dari pengorbanan
yang tak semuanya bisa diukur dengan matematika.

Ada banyak sesungguhnya sosok-sosok seperti ini.
Salah satunya saja Ibu Robin Lim,
seorang bidan,
mungkin juga seorang ibu bagi kita semua,
yang telah membantu kelahiran di banyak keluarga
utamanya yang tak mampu
dengan berbekal kearifan-kearifan lokal nusantara kita
dan tentu saja cinta.

Mungkin sekilas saja kita tahu dari Kick Andy
atau dari berbagai publikasi lainnya.
Dan mungkin pula hanya sebentar gambaran akan sosok ini bertengger di kepala kita.

Tapi coba tanya pada mereka yang ditolong
ataupun terlibat mengabdi berdampingan bersamanya
ataupun cobalah bertemu langsung menyaksikan dari dekat
atau bahkan mungkin langsung merasakan sentuhan pertolongannya.
Sosok ini tentu akan makin berarti dari sekedar teks-teks.

Saya beruntung berada di Bali.
Sempat melihat dari dekat sosoknya meskipun itu hanya saat presentasi.
Tapi saya lihat sendiri bagaimana ekspresi orang-orang yang pernah ditolongnya
ataupun orang-orang yang terlibat aktif dengannya.
Itu ekspresi-ekspresi luar biasa yang sulit dipetakan dengan kata-kata.

Seandainya rekan-rekan tak seberuntung saya
mungkin saja tulisan yang dibuat rekan-rekan akarumput.com ini,
'Pesan cinta dari Robin Lim',
masih bisa mewakili ribuan kata yang ingin saya utarakan.

Semoga saja kita masih punya cukup waktu dan kemampuan 
untuk bisa membaca dan meresapinya.
Dan semoga pula masih tersisa hari kita untuk sejenak memberikan dukungan.

Saya doakan rekan-rekan punya dan bisa.

- Errik Irwan -




(silakan klik Ibu dan bayi membutuhkan kamu atau Vote Robin Lim untuk CNN Hero 2011)


Senin, 17 Oktober 2011

Soal Bio Gas





Ada sebuah bangsa yang menggunakan kotoran manusia untuk memupuki kebunnya. 
Kotoran manusia ini bahkan diperjualbelikan di pasar. 
Ini tradisi dan benar-benar dianggap barang berharga.
Memang terasa menjijikkan dan terbelakang bangsa model beginian (apalagi ditambah kebiasaan jarang mandi) bagi kita.
Itulah Korea tahun 50-an. Ya Utara, ya Selatan.

Itulah hal menarik sekali yang saya baca dari buku Catatan Perang Korea karya Mochtar Lubis. Memang tepatlah dia satu-satunya jurnalis republik ini yang diundang ke sana tahun itu.

Dan mari benar-benar kembali obrolkan hal-hal sekarang.
Ini tentang Obrolan Rabu Malam (OBRAL) 28 September 2011.
Ini tentang "Green! Lifestyle atau Way of Life?"

Sabtu, 25 Juni 2011

Kampung Bersuara (Saatnya)


Ide komik ini didapat pada 30 September 2010 terinspirasi dari gerakan teman-teman arsitektur dan non-arsitektur yang mendampingi kampung-kampung di beberapa kota, khususnya Solo. Ide komik ini juga muncul sebagai keprihatinan dan sekaligus kritik penulis terhadap teman-teman muda arsitektur dan non-arsitektur yang begitu sibuk dengan dunia pribadinya. Mungkin komik ini juga menjadi kritik terhadap diri penulis sendiri ketika juga terlalu sibuk dengan dunia pribadi sendiri. Namun juga komik ini merupakan dukungan pribadi terhadap gerakan teman-teman agar terus hidup sementara penulis sendiri belum bisa berpartisipasi nyata (karena masih sibuk dengan dunia pribadi sendiri).

- - -

“Bukan melalui retorika gegap gempita, ataupun bermain politik dengan kaum elite, melainkan dengan menanamkan akar-akar pranata yang beradab-berkeadilan di bumi nyata, dengan belajar dan membangun bersama dengan rakyat di kampung-kampung. Sebab, mayoritas bangsa Indonesia tinggal di kampung-kampung. Sebab, kampung, sebagai satuan terkecil permukiman dan masyarakat, merupakan benteng terakhir pertahanan rakyat dari kekuatan-kekuatan yang buas-menindas. Dari sanalah demokrasi, sebagai landasan pranata beradab-berkeadilan yang kita cita-citakan, semestinya dibangun.”

- Darwis Khudori dalam sampul bukunya, “Menuju Kampung Pemerdekaan” -


- - -


 Bagaimana teman-teman arsitektur dan non-arsitektur? Bagaimana generasi muda?


?

- Errik Irwan -

Selasa, 21 Juni 2011

SEMARANG 2100

Mari berkhayal-khayal kota kita.
Setelah sekian generasi ke depan.
Setelah sekian anak muda pulang.
Membawa modal dan intelektual.
Membawa pengetahuan dan ketrampilan.
Bagaimana cara membangun kotanya.
Sehebat-segegap gempita Dubai, Shanghai, Beijing,
Dan kota-kota Hyper-megalopolis negara maju lainnya.
Mari berkhayal-khayal…


Ini Semarang 2100.
Bandara A Yani sudah di Kendal dan lebih besar.
Reklamasi Marina berhasil jadi pusat pertumbuhan ekonomi prestisius!
Universitas-universitas sekarang berciri teknologi tinggi.
Lulusannya bisa menaklukkan tantangan alam.
dan cakap mencakar-cakar langit.
Warga kotanya terlanjur super-kaya.
Investasi dimana-mana.
Singkatnya Semarang 2100 tidak kalah dengan Dubai, Shanghai, Beijing.
Giat membangun, membangun, membangun,…



Membangun, tapi lupa daratan.
Daratannya tak mampu tahan sekian bangunan.
Diperparah pencairan es kutub efek pemanasan.
Ia pun tenggelam ditelan lautan.


Semarang 2100.
Ada Bukit GunungPati, Bukit Gunung Ungaran.
Ada Pantai Bukit Sari, Pantai Bukit Gombel.
Ada Taman Laut Kota Lama, Taman Laut Pemuda, Taman Laut Simpang Lima.
Dan ada wisata jelajah bangunan tua dalam air.
Semarang Kota Air.


Benar-benar hebat!


Sayang, kita cuma berkhayal-khayal kota kita.


Minggu, 15 Mei 2011

Alasan klasik


Manusia makhluk sosial, itu benar.
Manusia saling membutuhkan, itu benar.

Tapi kadang kala, manusia juga serigala bagi manusia yang lainnya.
Manusia juga bisa menjadi parasit bagi manusia yang lainnya.

Dalam dunia perkuliahan, dunia kerja, dunia nyata, dunia asmara, dunia maya, selalu terdapat berbagai jenis manusia, salah satunya yang berjenis parasit.

Dalam dunia perkuliahan, manusia berjenis parasit ini biasanya muncul ketika ada tugas kelompok. Menghisap inangnya tanpa memberikan timbal balik, begitulah yang dilakukannya. Bukan berarti manusia atau mahasiswa berjenis parasit ini menghisap inangnya secara terang-terangan. Parasit disini memiliki artian yang hampir mirip, namun kinerjanya dengan cara, menumpang nama dalam kelompok mahasiswa lain.

Misalkan, ada kelompok yang bernama kelompok "ganteng", si mahasiswa parasit ini ikut nimbrung sebagai anggota dalam kelompok itu. Namun perannya hanya menumpang nama saja, sedangkan kerjanya tidak ada.

Memang sih sepertinya tidak sekejam parasit yang asli, tapi lihatlah dampaknya. Sedikit demi sedikit menggerogoti energi temannya yang satu kelompok. Bayangkan tugas yang harusnya dikerjakan 10 orang dalam waktu 2 hari, tapi karena manusia atau mahasiswa parasitnya banyak, jadi dikerjakan seorang diri. Belum lagi kalau misalnya mahasiswa seorang diri itu terkena diare, waktu pengerjaan hanya setengah hari, sisanya untuk berada di wc.

Sulit untuk menyembuhkan mahasiswa parasit itu. Sebanyak apapun menenggak obat cacingan, tetep aja gak bisa hilang.

Dan yang namanya mahasiswa parasit, selalu memiliki ribuan alasan yang siap disimpan dalam kotak amunisi, siaga dalam berbagai situasi, tidak peduli apa yang akan terjadi, yang penting mereka bisa hepi-hepi.


Senin, 02 Mei 2011

Ada Yang Bercita-cita Jadi Nelayan atau Petani?

“Tugas pendidikan adalah mengusahakan emansipasi, yaitu mengantar dan menolong anak mengenali dan mengembangkan potensi-potensi dirinya agar menjadi manusia yang mandiri, dewasa dan utuh; manusia merdeka sekaligus peduli dan solider dengan sesama manusia lain dalam ikhtiar meraih kemanusiaan yang semakin sejati dengan jati-diri dan citra-diri yang semakin utuh, harmonis, dan integral”

- A. Supratiknya dalam ‘Pergulatan Intelektual Dalam Era Kegelisahan’ -
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Entahlah bagaimana situasi-suasana persekolahan sekarang untuk anak-anak. 
Apakah menyenangkan? 
Apakah menyeramkan?

Jika anak-anak begitu bergembira ketika bel selesai pelajaran berbunyi, begitu ceria ketika jam sekolah berakhir, tapi begitu tegang ketika akan ke sekolah, begitu suntuk ketika pelajaran kelas, tapi begitu senang kalau guru tak ada, maka jelas sekolah itu menyeramkan dibanding menyenangkan.

Kalau sekolah itu menyeramkan seperti hantu yang menghantui sepanjang hari lalu bagaimana belajar itu bisa terjadi? Manusia merdeka bisa tercipta? Jelas yang dipelajari adalah siasat mengakali hantu harian itu yang mungkin akan sangat jauh lebih berguna untuk kehidupan masa depan di Republik sikut-sikutan ini. Ya,.. lebih berguna daripada disuruh menghapal hal serba mengawang-awang, kering, tak menyentuh, untuk kemudian menyajikan menjadi jawaban-jawaban tepat, text book oriented, persis robot dan tentara

Entahlah sekarang, dulu siswa yang dipuji adalah yang mampu menjawab soal-soal yang diajukan. Semakin presisi dengan buku semakin tinggi pula prestasi dijangkau. Jadi benar-benar yang dipelajari 'hanya' yang ada di buku, atau (lebih luas sedikit) yang ada di kelas. Lebih jauh lagi belajar adalah yang ada di sekolah, sepanjang sekolah. Di luar itu (jelas!) bukan belajar. Maka tak perlu repot-repotlah memahami lingkungan habitat, tak perlu habiskan energi untuk peduli-peduli persoalan kehidupan. Itu tak ada di kurikulum, tak akan diujikan (nasional).

Entahlah mengapa jiwa-mental menjawab sebanyak-banyaknya pertanyaan atau soal dari orang lain begitu amat dihargai. Entahlah kok bukan jiwa-mental ingin tahu, bertanya, mengajukan pertanyaan yang timbul dari pergulatan diri sendiri, merancang pertanyaan yang tepat tentang hal-hal yang berguna dan berharga baik bagi dirinya sendiri maupun untuk teman-temannya. Bukankah jiwa-semangat bertanya, mencari, dan meneliti pangkal dari sikap eksploratif berujung pada manusia kreatif-inovatif? 

Mungkin sebaiknya sekolah bukanlah tempat menjejali beragam jawaban untuk dihapal layaknya pusat indoktrinasi militer, tapi tempat pemicu ingin tahu. Hingga mungkin nanti jika ada anak berhabitat pantai-laut atau akrab sawah-ladang tak perlu repot-repot bercita-cita pekerja kantoran kota dan lulus menjadi buruh pabrik pinggiran rawa. Biarlah mereka bertanya-tanya apa yang bisa dilakukan dengan pantai-laut ini, apa yang bisa diolah agar berdampak lebih dari sawah-ladang ini untuk kehidupan sendiri dan sesama manusia.

"Anak-anak, ada yang bercita-cita jadi nelayan atau petani?"



Pendidikan harus bermekanisme belajar untuk seumur hidup. Masyarakat adalah sekolah yang sejati. Semua orang adalah guruku sehingga pada saatnya pun semua orang adalah muridku.

I
I

Jumat, 29 April 2011

Car Free Deh

Ketika isu 'green' berkolaborasi dengan kemajuan teknologi informasi, sedikit ditambah bumbu 'ababil' (abege 'anak baru gede' labil) cap 'OKB' (Orang Kaya Baru), hasilnya adalah rasa perpaduan hidup yang indah...... 


Sebuah tren 'fashion' masyarakat serba kini.

Ide didapat selama workshop arsitektur 'Dimanakah Batas Bali?' 2 April 2011. Entah sampai dimanakah kelanjutannya.

Minggu, 27 Februari 2011

Melawan Gravitasi Jakarta









Ah.... Sepi...



I
I
I


Kawan-kawan,.. Mau kemanakah kalian semua?


Kami hendak ke Jakarta


Apa yang mau kalian lakukan di sana?


Kami mau mengubah nasib diri
Kami mau meniti karir
Kami ingin sukses
Kami ingin terkenal
Kami ingin menjadi yang terbaik di negeri ini.


Kawan-kawan.. 
Tak bisakah kita lakukan tanpa harus ke sana?
Bukankah Jakarta sudah penuh manusia pencari
Dari pemuda-pemudi lugu desa-desa
hingga kaum pandai kampus-kampus ternama
seperti kalian kawan-kawanKu?
Bukankah Indonesia itu luas 
untuk kita perjuangkan hidup dan cita-cita kita?


Ah kau ini masih tetap lugu...
Apa yang bisa kau harapkan dari tempat kita ini?
Kami bukan manusia super seperti dirimu.
Kami tak punya pilihan.
Kami tak kuasa melawan arus alam.


Kawan-kawan, bukankah aku sama seperti kalian..
Kaum manusia biasa tak punya kuasa
Juga bukan siapa-siapa
Bukankah kita sama?
Tapi pernahkah kawan-kawan bermimpi
kita bersama-sama tak harus ke sana untuk mengubah nasib?
Kita bisa bersama-sama mengisi negeri ini.
Tak pernahkah kawan-kawan bermimpi itu?


Bahkan mimpi pun menjadi kemewahan buat kami.
Hanya Jakartalah mimpi kami tergambar.


Baiklah kawan-kawan...
Semoga kalian tak berlama-lama di sana.
Kasihan orang-orang terbuang yang sudah lebih dulu di sana
bersaing lagi dengan kalian manusia-manusia unggulan.


.............


Moga-moga ada keajaiban agar aku pun tak ke sana
karena tanpa kalian kawan-kawan.
Aku bukan siapa-siapa yang bisa melawan arus alam.
Tunggulah 10-20 tahun lagi aku akan mencari kalian kawan-kawanku.
Semoga kita bisa isi negeri kita yang luas ini.
Semoga.....


-Errik Irwan-

Selasa, 15 Februari 2011

Sastra-Komik Simon Hureau



Pada tanggal 14 hingga 19 Februari 2011 berlangsung 
pameran kartun dan komik Simon Hureau.
Pameran berlangsung di Alliance Francaise, Denpasar.
Kegiatan acara terdiri dari pameran karya, diskusi pada pembukaan pameran, 
dan workshop pada tanggal 15 hingga 17 Februari.
Melalui dua orang teman saya dapat undangan internet 
pameran karya seniman Perancis ini.

Beberapa hal keingintahuan muncul akan acara ini.
Pertama, keingintahuan tentang komik 'gaya' Perancis.
Maklum bahwa Indonesia sudah terlalu dekat 
dengan komik gaya Jepang dan pula Amerika (walau sedikit).
Kedua, keingintahuan tentang 'sastra-komik' yang tertera pada poster undangannya.
Apa itu 'sastra-komik' yang membedakannya dengan 
komik-komik lainnya di sekitar kita?
Ketiga, keingintahuan tentang si seniman.

Dengan dasar itu, di tengah-tengah lembur deadline 
saya menyempatkan diri menghadiri acara itu, 
utamanya untuk diskusi di pembukaan pameran jam 7 malam.
Beruntung bahwa sesi diskusi belum dimulai ketika saya baru sampai 

meskipun sudah 30 menit berlalu dari jadwal.
Pameran yang terbilang sederhana ini pun 
ternyata dibuka tanpa 'pembukaan' dan diisi tanpa diskusi 'formal'.
Semua berlangsung cair dan bebas.
Pengunjung bisa langsung menikmati karya dan bertanya 

atau berdiskusi langsung dengan sang seniman 
dalam bahasa Perancis (kalau bisa) dan Inggris, 
ataupun boleh bahasa Indonesia dengan bantuan penerjemah 

direktris Alliance Francaise Denpasar, Audrey Lamou.

Kesederhanaan pameran tidak mengurangi rasa apresiasi.
Isi karya pada lembaran-lembaran kertas yang langsung 
ditempel begitu saja tanpa bingkai di dinding lebih menarik perhatian.
Karya-karya ini cenderung padat tulisan, 
tidak berplot rapi maupun beralur cerita umum, 
sebagian besar karya lebih cenderung deskripsi sesuatu 
khususnya lingkungan selama perjalanan, 
dan yang menjadi kekuatan selanjutnya 
adalah pada goresan yang dinamis serta spontan.

Gambar dibuat tanpa bantuan penggaris 
dan mungkin cukup bantuan sketsa pensil sebelum ditumpuk tinta.
Sayang bahasa menjadi kendala dalam memahami kartun dan komik ini.
Namun masih bisa dipahami melalui bahasa gambar yang cukup detail.

Yang menarik bagi saya, mungkin juga pengunjung lain, 
adalah buku sketsa perjalanan (mungkin lebih tepat sebagai diari bergambar) 
yang berisi rekaman visual akan tempat-tempat yang pernah dikunjungi.
Tampaklah di situ semisal suasana pingir jalan kota Jogjakarta, 
lingkungan alam Bali, hingga gambaran kamar menginap.
Di lembaran itu selain tertuang goresan-goresan pensil, tinta cat air, 
juga terdapat tempelan-tempelan kertas iklan, kemasan produk, dan tanaman.
Paling mengagetkan adalah tempelan hewan-hewan mati 
seperti kupu-kupu, cicak, kecoa, ular, tikus, 
dan sebagainya yang mungkin ditemuinya sepanjang perjalanan.
Entah bagaimana proses awal keberadaan hewan-hewan tersebut di situ.
Semua sudah menyatu, terawetkan bersama buku itu.

Melihat ketekunan, keterampilan, dan keunikan melalui karya-karya itu 
tidak heran jika para Kritikus di Perancis mengakui Simon 
sebagai salah satu ahli komik terbaik di zamannya. 
Kehebatannya bisa dilihat melalui karya-karyanya yang berjudul 'Office Extensions'
'Empire Of High Walls', atau 'Everything Must Go'.
Baru-baru ini Simon berpartisipasi dalam proyek kolektif 
seperti 'Under The Sign of Dolphin', buku anak-anak, 
dan 'Suburbs Nomadic', buku perjalanan kerja yang didedikasikan untuk Paris.

Simon Hureau berangkat dari lulusan ilmu alam, 
memilih hukum dan fine art 
sebelum akhirnya mendaftar di Sekolah Tinggi Seni Dekoratif jurusan ilustrasi.
Tahun 2004, Dove dan perusahaan sejenis mengakui bakat 
dan kemampuannya hingga menjadi seperti sekarang.
Simon Hureau telah memilih jalannya. 

Sebelum saya pulang memilih jalan saya sendiri 
Simon sempat membubuhkan tanda tangan dan usapan tinta pada bukunya yang saya beli.
Sebuah oleh-oleh yang akan saya ceritakan pada kawan-kawan yang lemburan.



- Errik Irwan -

----------------------
Rekaman visual lingkungan sekitar.
Ini tikus asli yang sudah mati!
Entah apakah tidak bau membawa ini ke mana-mana


Suasana pameran di Alliance Francaise:




Simon Hureau menandatangani dan mewarnai bukunya yang dibeli.


I
I
I

*Sebagian informasi diperoleh melalui Al'affiche, buletin Alliance Francaise Denpasar edisi Januari-Februari 2011