Tampilkan postingan dengan label sharing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sharing. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 November 2011

Belajar Sesuatu di Studio Akanoma - Yu Sing

Berada di pinggiran kota sebesar Bandung, lebih tepat di sebuah kampung pedesaan Padalarang, di tengah-tengah rerimbunan bambu, kebun-kebun, kampung, jalan tanah berbatu, sempit tapi cukup dilalui satu mobil, jelas ini bukan lokasi yang mudah dicapai walaupun dari situ terlihat jelas jalan tol Purbaleunyi memotong kaki bukit di seberang.

Tampak Luar Studio Akanoma - Yu Sing
Membuat studio arsitektur di lokasi tersebut bisa jadi semacam biara pengasingan sekaligus penghilang keterasingan kepada lingkungan mayoritas masyarakat kita. Ya, sebagian besar masyarakat kita tidak lepas dari hal-hal seperti kampung, kebun pertanian, jalan-jalan yang buruk, dan sebagainya. Tampaknya ini yang coba dicari (atau kebetulan didapat) oleh Yu Sing pada studio yang ia pindahkan dari hiruk pikuk kota Bandung.

Sepintas, dari kejauhan, bangunan joglo, kumal, dengan dinding aneh dari kaca bekas mobil yang masih bagus di bagian kanan bangunan. Bayangan kemegahan arsitektur luntur seketika. Tidak ada gaya-gaya clean cut - serba mulus, yang ada, tambal sulam di sana-sini. Tidak ada material serba mahal, awet, dengan kualitas internasional, yang ada cuma bambu-bambu khas rumah kampung, barang bekas, kualitas kampung.

Begitu masuk, melewati dinding ram kawat, hanya ada ruang kosong dengan ceruk di tengah-tengah. Ah.. bayangkan di ceruk itu diisi dengan air panas, bisa betahlah berendam di situ. Di setiap sudut ceruk ada kolom beton dengan empat cabang pada setiap kolom  menopang joglo di atasnya. Menarik. Sedangkan di bagian kanan ada ruang dengan pintu kaca, seperti kantor-kantor pada umumnya, dengan dinding dari krat-krat minuman. Ternyata sebuah perpustakaan akan diletakkan di ruang itu, ide mirip yang dilakukan Achmad Tardiyana pada rumah bukunya. Krat-krat minuman itu berfungsi sebagai rak-rak buku, cukup kuat. Sedangkan di bagian bawah perpustakan coba dimanfaatkan untuk kolam lele.

Di sebelah ruang perpustakaan terdapat pintu masuk ke tangga menuju lantai atas, tangga dari bambu. Nah, ini dia dinding aneh itu, dinding dari kaca-kaca mobil, masih utuh, yang tidak laku dijual lagi. Kaca-kaca mobil tersebut cukup dijepit kemudian diikat dengan kawat menuju batang-batang bambu. 

Kaca-kaca mobil bekas
Di lantai atas inilah terdapat sebuah joglo, Yu Sing mendapatkannya dari  Solo. Pada awal pembangunan studio ini, buru-buru ia merampungkan struktur beton di bawah yang akan menyangga joglo tersebut, karena pembelian joglo sudah termasuk perakitan. Sangat sayang bila tidak dimanfaatkan, mengingat perakitan joglo tidaklah mudah. Akibatnya, struktur beton menjadi kurang sempurna. Beberapa bagian retak lalu diperkuat . Ini jadi pembelajaran. 

Yu Sing juga memperpanjang tritisan atap joglo,  kemudian ia memberi beberapa batang pipa besi, miring membentuk huruf V sebagai penyangganya. Pipa-pipa ini menyambung pada talang di sekeliling atap,membuatnya berfungsi ganda : penyangga juga talang air hujan.

Suasana Studio
Warung Akanoma
Joglo inilah area kerja Yu Sing dan staf-staf nya, ruang tanpa sekat ,sudah termasuk di dalamnya dapur yang lebih mirip warung. Meja-meja kerja diletakkan di tepi ruangan, dekat dengan jendela dari nako kaca dan kombinasi tripleks bekas bekisting. Di seberangnya dapur dengan jendela lipat, saat dibuka suasana menjadi seperti warung kampung, hanya saja kurang satu hal : perlu digantungkan beberapa renteng-an krupuk, shampo, makanan ringan, dsb (:p). Meja dapur dirancang dapat dibuka-tutup untuk menyimpan beberapa peralatan masak dan makan, sedangkan beberapa rempah-rempah dan bumbu dapur disimpan pada krat-krat minuman yang diletakkan menjadi ambang jendela. Pada bagian luar dapur sudah pula diletakkan bangku panjang. Benar-benar warung!

Bagian belakang bangunan terdapat bangunan tempat beberapa staf dan mahasiswa magang tinggal sementara, seperti penginapan, tetapi beberapa masih kosong-tidak ada tempat tidur, dan sebagian dimanfaatkan untuk ruang pertemuan dengan klien. Sementara kamar mandi ada di belakang "penginapan" ini dirancang dengan detail-detail unik.


Lansekap juga tidak lepas dari perencanaan, saat ini pada bagian belakang lahan masih tampak susunan batu berundak, semakin tinggi ke belakang mengikuti kontur lahan , melengkung,  diikat kawat (bronjong)  dan di antara susunan tersebut dibuat beberapa lubang biopori.

3 jempol untuk studio Akanoma !!!
 


Selasar "Penginapan" Akanoma

Botol Kaca untuk gantungan pakaian
Dinding Bambu "Penginapan" Akanoma

Susunan Bambu harus benar-benar rapat
Penataan Lansekap Sederhana Namun Unik

Susunan Batu berundak dengan biopori di antaranya


Kristoporus Primeloka


BUAH LOKAL YANG TERJUNGKAL, MANGGIS SI RATU BUAH TROPIS


”Bahkan ada pandangan doanya lebih sampai kalau menggunakan buah impor ketimbang buah lokal,”

- I Ketut Sumadi -

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Tentang nasib buah lokal.

Ini tema harian Kompas hari Minggu, 16 Oktober 2011.
Saya baca ini dan Senin pagi saya tulis status fesbuk soal ini.
Saya tulis begini:

"Ini lucu banget deh. Ada pandangan (di Bali) bahwa doa akan lebih sampai kalo sesajinya menggunakan buah impor ketimbang buah lokal. Juga kenyataan negeri paling subur di dunia dengan keanekaragaman buah tropis paling kaya ternyata di pasaran dalam negeri isinya buah impor. Bahkan buah pengembangan orang2 hebat dalam negeri pun dinamai sesuatu yang berbau asing agar dianggap buah impor."


Dan seperti yang saya duga bahwa ini menarik perhatian 
dan menjadi bahan diskusi panjang di kolom komentar. Hanya sayang bahwa teman-teman itu belum sempat membaca artikel lengkapnya dan kesulitan membuka Kompas Cetak versi digital dari komputer markas untuk membagi tulisan tersebut.


Berikut ini dua tulisan diantaranya dari 
harian Kompas hari Minggu, 16 Oktober 2011.


(harap maklum saya baru bisa meneruskan artikel-artikel dan mengingatnya dengan bikin gambar (
Buah Lokal Gak keren, Ayo Bikin Keren). Belum bisa melakukan lebih jauh di lapangan soal cinta tanah air. Tas punggung National Geographic yang sering saya pakai saja ternyata buatan China sebagaimana diberitahu teman saya)

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

BUAH LOKAL YANG TERJUNGKAL

Lihatlah sekeranjang buah atau tataplah deretan buah di balik etalase toko. Menggiurkan, menggoda mata, dan menggugah selera. Ah, sayang di negeri kaya ini, buah cantik dan menggiurkan itu kebanyakan buah impor.


Minggu, 06 November 2011

Kearifan Lokal (Arsitektur) Merapi


Merapi, sebuah kata yang akan langsung mengingatkan kita pada sebuah gunung yang megah berdiri dengan kokohnya di sebagian Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebuah kosmologi yang secara menyeluruh menyentuh sebagian orang yang percaya akan Merapi adalah sumber penghidupan. Merapi adalah gunung penjaga yang memberikan kesejahteraan bagi setiap yang tinggal disekitarnya. Kadangkala dirasa Merapi membahayakan bagi sebagian kita yang tidak menganggap adanya suatu penghidupan dari Merapi saat beliau memuntahkan awan panas atau yang lebih dikenal dengan “wedhus gembel”. Namun, bagi masyarakat yang percaya akan kosmologi kekuatan Merapi ini tidak lebih hanya sebuah siklus untuk tetap menjaga kelestariannya. Bahkan bagi sebagian orang ini akan lebih termotivasi untuk tetap bisa menjaga kelestarian alam Merapi.

Jumat, 21 Oktober 2011

Kearifan Lokal Rumah Arif Budiman

Hmmm..buka-buka album lama jadi inget lupa 'share' foto-foto hasil kunjungan ke rumah salah seorang intelektual terkemuka Indonesia, Prof Dr Arief Budiman di jalan Kemiri Candi, Kota Salatiga, Jawa Tengah. 

Teman-teman CS8 mengunjungi salah satu karya alm. Romo Mangunwijaya. Kami berangkat dari Semarang pagi hari sampai Salatiga (satu setengah jam) langsung makan siang di salah satu restoran di Salatiga dan perjalanan dilanjutkan ke rumah Prof. Dr Arief Budiman. Sayang saat itu beliau tidak ada  di rumah jadi tidak bisa bercerita tentang proses pembuatan rumah asri tersebut. 


Walau begitu senang rasanya bisa melihat langsung setiap detail di setiap sudut rumah. Mulai dari permainan penataan dinding batu bata hingga detail kolom rumah sederhana namun indah inilah ada di benak saya ketika melihat detail bangunan.

Kamis, 02 Juni 2011

Cara Berceramah dari Masa ke Masa

Sebelumnya disarankan, jangan meniru adegan yang akan ditulis ini.

Jadi alkisah aku lagi beribadah dengan tekunnya, begitu pula dengan segenap indera ku yang juga bekerja dengan tekunnya.

Indera penciuman, mencium bau parfum umat lain. Indera peraba, tetap pada tempatnya, agar tidak meraba-raba yang lain. Indera perasa, kebetulan cuti kerjanya, soalnya abis merasakan makan siang yang sangat pedas. Indera pendengaran, yang dengan tenang menerima gelombang suara dari Romo yang sedang berkhotbah. Dan yang terakhir adalah indera penglihatan, yang melihat kesana kemari memandang cewek. Indera penglihatan mungkin bakal kena skors untuk sementara waktu, sedangkan Indera Birowo kayaknya masih tetep nongol di televisi.

Tidak ketinggalan, sang kapten dari semua indera tadi, yaitu si otak, turut ambil bagian untuk berpikir.

Itu tadi hanya selingan pembuka bagaimana semua sistem di tubuhku bekerja. Yang jadi topik pembicaraan sebenarnya adalah tentang khotbah dari Romo.
Sebenarnya biasa aja cara penyampaian verbal nya, tidak jauh beda dengan Romo lain yang berada di wilayah lain dengan wujud yang lain juga.
Khotbah kali ini disampaikan didukung dengan bantuan sebuah alat proyektor. Dengan adanya alat itu, khotbah Romo tidak hanya diterima oleh indera pendengaran saja, tetapi juga dengan indera penglihatan !!
Ini benar-benar sebuah inovasi baru yang fantastis !! ngalahin sinetron cinta fitri yang beratus ratus episode.
Sambil mendengar khotbah Romo, kita juga bisa melihat teksnya yang disampaikan, serasa nonton film barat sambil baca subtitle, bedanya, bahasa yang disampaikan sesuai subtitlenya, nggak ada alih bahasa apapun.


Aku jadi mikir, bagaimana cara berkhotbah dari jaman ke jaman.
dan inilah apa yang kupikirkan...

kira-kira ini abad 17


Selasa, 31 Mei 2011

Sejarah Becak Singkat


Gambar-gambar berikut ini dibuat awalnya dengan tujuan sebagai pengantar dalam pameran.
Namun pada akhirnya muncul niat buat dimasukin ke blog, alhasil...

Sebuah cerita tentang becak, dengan mengambil data sumber dari hasil wawancara dengan mbah google.


Minggu, 15 Mei 2011

Alasan klasik


Manusia makhluk sosial, itu benar.
Manusia saling membutuhkan, itu benar.

Tapi kadang kala, manusia juga serigala bagi manusia yang lainnya.
Manusia juga bisa menjadi parasit bagi manusia yang lainnya.

Dalam dunia perkuliahan, dunia kerja, dunia nyata, dunia asmara, dunia maya, selalu terdapat berbagai jenis manusia, salah satunya yang berjenis parasit.

Dalam dunia perkuliahan, manusia berjenis parasit ini biasanya muncul ketika ada tugas kelompok. Menghisap inangnya tanpa memberikan timbal balik, begitulah yang dilakukannya. Bukan berarti manusia atau mahasiswa berjenis parasit ini menghisap inangnya secara terang-terangan. Parasit disini memiliki artian yang hampir mirip, namun kinerjanya dengan cara, menumpang nama dalam kelompok mahasiswa lain.

Misalkan, ada kelompok yang bernama kelompok "ganteng", si mahasiswa parasit ini ikut nimbrung sebagai anggota dalam kelompok itu. Namun perannya hanya menumpang nama saja, sedangkan kerjanya tidak ada.

Memang sih sepertinya tidak sekejam parasit yang asli, tapi lihatlah dampaknya. Sedikit demi sedikit menggerogoti energi temannya yang satu kelompok. Bayangkan tugas yang harusnya dikerjakan 10 orang dalam waktu 2 hari, tapi karena manusia atau mahasiswa parasitnya banyak, jadi dikerjakan seorang diri. Belum lagi kalau misalnya mahasiswa seorang diri itu terkena diare, waktu pengerjaan hanya setengah hari, sisanya untuk berada di wc.

Sulit untuk menyembuhkan mahasiswa parasit itu. Sebanyak apapun menenggak obat cacingan, tetep aja gak bisa hilang.

Dan yang namanya mahasiswa parasit, selalu memiliki ribuan alasan yang siap disimpan dalam kotak amunisi, siaga dalam berbagai situasi, tidak peduli apa yang akan terjadi, yang penting mereka bisa hepi-hepi.


Jumat, 13 Mei 2011

Semarangkan Becakmu





Alat transportasi, rodanya tiga, tapi bukan kendaraan bajaj, bukan juga bemo, apalagi obat nyamuk. Roda tiga yang dimaksud disini adalah sebuah alat transportasi yang terkenal paling ramah lingkungan, yaitu becak. Bukan cuma becaknya yang ramah, terkadang tukang becaknya sendiri juga orangnya ramah.

Dimasa kecil, kita dapat menemukan becak, dimanapun, kapanpun, dan sejauh apapun mata memandang, kita masih bisa melihat penampakan becak. Becak ini seolah-olah menjadi sebuah alat transportasi yang wajib hukumnya untuk dinaiki. Menikmati angin sepoi-sepoi di jalanan yang panjang, tanpa harus mengayuh sekuat tenaga.
Ketika produk otomotif Jepang mulai memasuki Indonesia, saat itu juga becak mulai menghilang satu persatu. Mulai dari tebeng yang hilang, pelanggan yang hilang, hingga tukang becaknya yang hilang. Prinsip “kayuh-mengayuh” mulai berubah menjadi “ngegas-mengegas”. Tanpa menggunakan tenaga penuh untuk memutarkan kaki, sebuah alat transportasi sudah dapat berjalan maju melewati tebasan angin.
Jalanan yang dulunya dipenuhi dengan becak, sekarang malah dipenuhi dengan asap kendaraan yang besarnya nyaris menyerupai becak. Para pejalan kaki harus mengalah ketika berbagi dengan alat transportasi bermesin itu. Menutup muka, hidung, dan mata agar tidak terkena asap jalanan. Polusi udara dimana-mana, kendaraan ber-knalpot dimana-mana, tapi becaknya ada dimana??
Situasi yang tidak menyenangkan ini, memunculkan orang-orang yang kangen dengan udara yang bening. Orang-orang yang tahu bahwa atmosfer mulai bolong-bolong hingga bermotif polkadot . Orang-orang yang tahu bahwa paru-paru bumi sudah mulai rusak. Orang-orang yang tahu, bahwa sepeda adalah solusinya.

Dengan sepeda, mereka dapat kembali menikmati angin sepoi-sepoi. Prinsip “kayuh-mengayuh” mulai kembali populer, melawan ganasnya prinsip “ngegas-mengegas”. Munculnya komunitas sepeda, diikuti pula dengan program “car free day”, sebuah program tanpa kendaraan berknalpot dijalanan. Walau hanya berlaku di beberapa jalanan, dan lebih tepat disebut sebagai “car free hours” karena hanya berjalan selama beberapa jam, bukan sehari.
Sepeda pun pada prinsipnya hampir sama dengan becak, yaitu sama-sama “kayuh-mengayuh”. Bila sepeda bisa menjadi populer sekarang ini, maka kelak becak pun bisa menjadi sebuah solusi juga. Becak pun juga dapat bersaing dijaman yang serba mesin.

Salah satu bukti bahwa becak memiliki potensi untuk bersaing dikerasnya jaman yaitu, masih dapat ditemukannya becak lengkap dengan tukang becaknya, walaupun hanya segelintir kecil saja. Dan untuk lebih meyakinkan bahwa becak memang benar-benar mampu bersaing, maka diadakanlah sebuah acara, dimana becak ini dapat peran sebagai pemeran utama.
Pemeran utama dalam sebuah acara pameran utama. Dengan berbagai karya anak bangsa, yang mengusung tema becak, menjadi sebuah respon, jawaban, tanggapan, ungkapan, yang tak terbataskan.
Pameran “Semarangkan Becakmu”, adalah sebuah pameran yang diperankan oleh becak yang memang ber domisili di kota Semarang. Berbagai karya yang ditampilkan, terinspirasi dari sebuah kendaraan beroda tiga dan digabungkan dengan kreatifitas yang ada. Hasil kolaborasi dari ilmu yang ada, dengan alat transportasi tradisional.
Pameran "Semarangkan Becakmu"

-pembukaan-
Rabu, 18 MEI 2011, pukul 10.00

-pameran
Rabu, 18 MEI 2011, pukul 10.00-16.00
Kamis-Jumat, 19-20 MEI 2011, pukul 09.00-16.00



Kamis, 05 Mei 2011

Ignatius Hermawan Tanzil - LeBoYe

“Jenjang karirnya seorang grafik desainer ditentukan dari sejak awal mereka lulus sekolah, portfolio menjadi sangat penting! karena portfolio itu sendiri juga adalah adalah marketing tool kita, portfolio baik selalu dihasilkan oleh keringat dengan idealisme desain yang baik”
Keyakinan menentukan cita-cita

Sejak dini pria kelahiran Bandung ini tengah akrab hidup dengan tinta dan grafis. Ia senang membantu usaha percetakan milik keluarga bahkan memilih untuk tinggal di percetakan. Tahap demi tahap dalam proses mencetak dikuasainya dan telah menjadi kesehariannya. Duduk di bangku SMP St Aloysius, Bandung, jiwa seninya mulai tersalurkan. Mulai dari sastra, desain, fotografi hingga musik semua ia lakukan, tidak heran jika nilai keseniannya diatas rata-rata. Saat SMA, dengan yakin ia memilih jurusan IPS, bukan IPA yang biasanya lebih banyak diminati. Ketika teman-temannya memiliki cita-cita umum seperti insinyur, dokter, pilot, dan sebagainya, anak ketiga dari lima bersaudara ini justru melawanmainstream dengan memilih desainer grafis sebagai cita-citanya, yang saat itu masih langka di Indonesia. Dan keyakinan akan pilihan itu pun dikerjarnya hingga saat ini.

Lulusan  California College of the Art ini bekerja di beberapa perusahan yang mempunyai ciri khas yang berbeda. Dari perusahan arsitektural grafis yang menangani signage, brosur-brosur property dan office bulding. Kemudian ia melangkah ke sebuah perusahaan desain publikasi yang spesailisasinya pada desain buku dan majalahcorporate. Dan terakhir sebelum kembali ketanah air di Paul Curtin Design (pendiri Eleven Inc.), perusahaan yang menangani branding dan advertising.
Baginya desain adalah sebuah proses belajar oleh sebab itu ia tidak pernah berhenti untuk belajar. “Pada waktu kita kuliah kita belajar dari guru maupun teman-teman kita, pada waktu kerja kita belajar dari atasan atau bos kita juga teman kerja kita, dan yang sering orang lupakan kita juga belajar dari klien-klien kita,” ujarnya. Beliau juga merasa beruntung bisa belajar dari mantan-mantan bos yang memiliki karakteristik yang berbeda, ada yang desainnya lebih architecturalcorporate, dan juga art yang secara tidak langsung memperkaya seleranya. Untuk profesi desain tidak sama dengan seni murni menurutnya, jenjang karir merupakan hal sangat penting untuk dilalui oleh seorang desainer, karena ada sebuah proses dalam bekerja yang perlu dipelajari.

Mendesain dengan Idealisme
Berbicara tentang inspirasi desain seringkali tidak terlepas dari aktivitas sehari-hari, inspirasi bisa datang dari apa saja. Baginya yang terpenting adalah bagaimana seorang desainer sebagai individu selalu ingin belajar, punya rasa keingintahuan yang tinggi sertainterest dalam banyak aspek dalam kehidupan, maka otomatis ide itu akan selalu datang mengalir. Wawasan adalah hal yang sangat penting bagi kita seorang grafik desainer.
"Ada batasan antara karya seorang seniman dengan seorang desainer. Seniman berkarya untuk memuaskan dirinya sendiri, dimana karyanya sebagai ajang pengekspresian diri. Sedangkan desainer, dengan karyanya ia harus bisa memuaskan orang lain/ klien, ada target market yang harus dicapainya dalam jangka panjang. Namun, seni juga bukanlah sekedar unsur yang terkandung dalam sebuah karya desain. Lebih dari itu, seni dianggapnya harus mampu membawa manusia menjadi individu-individu yang lebih baik. Pemikiran-pemikiran seperti itu berangkat dari kegemarannya membaca karya sastra filosofis timur sejak usia muda, menjadi acuan berpikir dalam pencarian filosofi desain Hermawan. The end of the day, desain harus bisa mengispirasi banyak orang dan memberi nilai atau value baik," tegasnya.
Sebagai contohnya, Hermawan menjelaskan dalam proyeknya mem-branding restoran dikawasan Menteng. Sebelum projek berjalan LeBoYe melakukan riset terlebih dahulu, meninjau lokasi gedung serta meng-interview si pemilik gedung. Ternyata gedung yang bergaya kolonial itu pernah menjadi saksi sejarah sebelum kemerdekaan yang sempat dijadikan tempat pertemuannya Bung Karno. Dari hasil risetnya LeBoYe memberikan sebuah ide nama, “Bungarampai”, yang juga berarti antologi pusparagam. Sesuai dengan brand-nya yang mengambarkan keragaman dalam suatu kesatuan.
Bungarampai menyajikan akan makanan-makanan yang berasal dari seluruh wilayah Nusantara. Kembang yang begitu dekat dengan kita, yang mempunyai tradisi dari lahir, menikah, bahkan meninggal pun dengan kembang. Tentunya kembang pun menjadi tema dari restoran ini. Kata kembang rasanya dekat dengan tembang meskipun artinya berbeda oleh sebab itu ide muncul untuk membuat buku menu yang didesain seperti buku tembang puisi yang  mempunyai nada dan sangat puitis. Sesuatu konsep yang sangat sederhana. Kita mencari padupadannya yang ada di nusantara ini menjadi elemen utama dalam desain itu sendiri.

Kesimpulannya adalah desain yang baik adalah desain yang ada dalam diri kita sendiri dia ada dalam diri kita sering kali kita tidak menyadarinya, bukan desian yang dibuat-buat atau mengada-ada. Seandainya banyak desainer yang menyadari dan memberi perhatian lebih terhadap hal ini, niscaya suatu saat identitas desain grafis Indonesia itu akan muncul dengan sendirinya.[]

Senin, 02 Mei 2011

Ada Yang Bercita-cita Jadi Nelayan atau Petani?

“Tugas pendidikan adalah mengusahakan emansipasi, yaitu mengantar dan menolong anak mengenali dan mengembangkan potensi-potensi dirinya agar menjadi manusia yang mandiri, dewasa dan utuh; manusia merdeka sekaligus peduli dan solider dengan sesama manusia lain dalam ikhtiar meraih kemanusiaan yang semakin sejati dengan jati-diri dan citra-diri yang semakin utuh, harmonis, dan integral”

- A. Supratiknya dalam ‘Pergulatan Intelektual Dalam Era Kegelisahan’ -
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Entahlah bagaimana situasi-suasana persekolahan sekarang untuk anak-anak. 
Apakah menyenangkan? 
Apakah menyeramkan?

Jika anak-anak begitu bergembira ketika bel selesai pelajaran berbunyi, begitu ceria ketika jam sekolah berakhir, tapi begitu tegang ketika akan ke sekolah, begitu suntuk ketika pelajaran kelas, tapi begitu senang kalau guru tak ada, maka jelas sekolah itu menyeramkan dibanding menyenangkan.

Kalau sekolah itu menyeramkan seperti hantu yang menghantui sepanjang hari lalu bagaimana belajar itu bisa terjadi? Manusia merdeka bisa tercipta? Jelas yang dipelajari adalah siasat mengakali hantu harian itu yang mungkin akan sangat jauh lebih berguna untuk kehidupan masa depan di Republik sikut-sikutan ini. Ya,.. lebih berguna daripada disuruh menghapal hal serba mengawang-awang, kering, tak menyentuh, untuk kemudian menyajikan menjadi jawaban-jawaban tepat, text book oriented, persis robot dan tentara

Entahlah sekarang, dulu siswa yang dipuji adalah yang mampu menjawab soal-soal yang diajukan. Semakin presisi dengan buku semakin tinggi pula prestasi dijangkau. Jadi benar-benar yang dipelajari 'hanya' yang ada di buku, atau (lebih luas sedikit) yang ada di kelas. Lebih jauh lagi belajar adalah yang ada di sekolah, sepanjang sekolah. Di luar itu (jelas!) bukan belajar. Maka tak perlu repot-repotlah memahami lingkungan habitat, tak perlu habiskan energi untuk peduli-peduli persoalan kehidupan. Itu tak ada di kurikulum, tak akan diujikan (nasional).

Entahlah mengapa jiwa-mental menjawab sebanyak-banyaknya pertanyaan atau soal dari orang lain begitu amat dihargai. Entahlah kok bukan jiwa-mental ingin tahu, bertanya, mengajukan pertanyaan yang timbul dari pergulatan diri sendiri, merancang pertanyaan yang tepat tentang hal-hal yang berguna dan berharga baik bagi dirinya sendiri maupun untuk teman-temannya. Bukankah jiwa-semangat bertanya, mencari, dan meneliti pangkal dari sikap eksploratif berujung pada manusia kreatif-inovatif? 

Mungkin sebaiknya sekolah bukanlah tempat menjejali beragam jawaban untuk dihapal layaknya pusat indoktrinasi militer, tapi tempat pemicu ingin tahu. Hingga mungkin nanti jika ada anak berhabitat pantai-laut atau akrab sawah-ladang tak perlu repot-repot bercita-cita pekerja kantoran kota dan lulus menjadi buruh pabrik pinggiran rawa. Biarlah mereka bertanya-tanya apa yang bisa dilakukan dengan pantai-laut ini, apa yang bisa diolah agar berdampak lebih dari sawah-ladang ini untuk kehidupan sendiri dan sesama manusia.

"Anak-anak, ada yang bercita-cita jadi nelayan atau petani?"



Pendidikan harus bermekanisme belajar untuk seumur hidup. Masyarakat adalah sekolah yang sejati. Semua orang adalah guruku sehingga pada saatnya pun semua orang adalah muridku.

I
I

Rabu, 20 April 2011

PARASIT DI “PARADISE”

(Pada tanggal 16 April 2011 berlangsung diskusi "Urbanisasi Bali di Masa Depan" di Danes Art Veranda, Denpasar, sebagai rangkaian kegiatan dari pameran "Urbanities - Solo Photography Exhibition" oleh Rio Helmi. Berikut secuil ulasan isi diskusi tersebut yang ditulis oleh Rio Helmi. Selamat menikmati!)
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
 
Urbanities - Solo Photography Exhibition by Rio Helmi, 15-29 April 2011, Danes Art Veranda, Denpasar.


Senja di persimpangan bundaran jalan arterial kawasan Kuta itu sedemikian ruwet sehingga mudah memahami kenapa julukan “Simpang-Siur” sudah lengket dari tahun ke tahun. Disini hampir setiap saat rame, dan sinar lampu stop-an merah berarti ‘jalan’ bagi anak-anak yg berbaju lusuh. Mereka menyusuri mobil-mobil mewah dengan tangan terulur, menunggu uluran kembali dari penumpang-penumpang yang berdiam diri dibelakang kaca jendela. Anak yang lahir di desa tandus di balik gunung nun jauh ke timur, bumi yang tidak punya kasih, dipaksa bercekeran di aspal. Mereka  memahami kota dari perspektif yang tak ternyana oleh para perencana tata kota.

Bandar yang turun tengah malam untuk mengumpul duit mereka pun tidak terlalu repot berkasih sayang. Jujur kata, dari sekian ribu pengemudi dan penumpang pun yang berhenti di lampu stop-an itu, sedikit  yang benar-benar memperhatikan anak-anak itu, apalagi memikirkan nasib mereka, dan mungkin lebih sedikit lagi yang bertanya “Bagaimana ini bisa terjadi?”. Toh anak-anak itu adalah rang terendah pada tangga urban baru di Bali yang semakin sesak diinjak-injak, perkotaan yang semakin mendesak manusianya untuk membela kepentingannya masing-masing.

Memang selama tiga dasawarsa terakhir Bali menjadi rebutan, antara orang Bali, antara pendatang dari pulau lainnya di Nusantara, antara para expat yang menikmati “Paradise”. Ironisnya lama-lama bukan “paradise” yang menonjol tapi “parasite”. Saya yakin bahwa pernyataan ini akan tidak enak didengar, terutama oleh penduduk yang mencintai pulau ini. Namun kalau kita telaah kata ‘parasit’ ia adalah bentuk kehidupan yang tidak mengenal “co-dependency” tapi hanya “dependency”. Bentuk kehidupan ini akan hinggap dimana ia bisa menghisap  zat-zat yang dibutuhkannya, tapi tidak membalas budi alam bentuk signifikan. Dalam bentuk ekstrimnya, ‘tuan rumah’nya sang parasit bahkan bisa terhisap kering habis, mati tercekik.
Pola pemikiran parasit tidak melihat langkah lebih jauh dari sekedar kebutuhan hari ini. Ketidakmampuan memandang ke depan serta tidak memahami kepentingan bersama berakibat fatal, dan sesungguhnya adalah pola biadab. Anak-anak yang dikorbankan demi keuntungan orang tua adalah gejala infeksi parasit yang paling parah. Ada juga perilaku kita yang tidak senyata itu tapi tetap juga tindakan yang saling merugikan – contoh sederhana menyerobot antre, tidak bisa mengalah sejenak di perempatan lalulintas, dan sebagainya yang akhirnya membuat kesemrawutan. Daerah urban seolah menjadi tambang emas liar.

Saya ragu mengatakan bahwa ini adalah sifat hakiki manusia Indonesia moderen, saya lebih cenderung berpikir ini terjadi karena kita telah mengabaikan langkah penting dalam perkembangan urban dan masih bisa dikoreksi. Dalam desakan luar biasa yang terjadi kini di Bali (menurut sensus 2010, ada wilayah di Denpasar yang kepadatan penduduknya melebihi sembilan ribu lima ratus jiwa per kilometer persegi) banyak yang tidak sengaja bahkan tidak sadar menjadi parasit. Pola-pola kemasyarakatan lama terbengkelai, pola baru tidak terbentuk. Inilah keluhan yang terdengar saat diskusi tentang urbanisasi Bali baru-baru ini yang diselenggarakan sehari setelah pembukaan pameran foto "Urbanities" (http://www.thejakartaglobe.com/home/e-java-aims-to-go-paperless-in-2012/436429) .

Dalam diskusi tersebut dua tokoh ‘opinion-maker’ Bali, yaitu wartawan kawakan Bali Wayan Juniartha (“Jun”) dan penulis kolom Obrolan Bale Banjar di harian Bali Post, Made Sudira (“Aridus”), menunjuk hilangnya tokoh-tokoh panutan lama, baik Hindu Bali, Muslim maupun yang lainnya, sebagai faktor yang turut memperparah ketegangan antar kelompok masyarakat yang kini terjadi.


Menurut Jun, dengan adanya perubahan tatanan sosial (kelas menengah baru dsb) serta masuknya elemen jurus agama  didikan luar (bagi Hindu dari India, bagi Muslim dari Pakistan dst) generasi muda telah melupakan kode-kode interaksi antar golongan, antar etnis, antar agama. Terlupakan sudah bagaimana kerajaan-kerajaan Bali mempunyai hubungan khusus dengan kaum pendatang. Di Karangasem, misalnya, kampung-kampung Muslim justru membentengi puri. Mereka bahkan ikut mengamankan dan menjaga kebersihan lingkungan pura tempat sembahyang orang Bali. Sebaliknya ongkos naik haji mereka ditanggung oleh raja. Di Denpasar kaum Bugis pun dulu punya perjanjian khusus dengan Puri Pemecutan.

Sudira menekankan kurangnya komunikasi dan pengertian tentang kepentingan antar masing-masing kelompok. Dulu pada zaman ORLA dia turut membentuk organisasi informal terdiri dari pemuda-pemuda dari berbagai golongan etnis maupun agama untuk membentengi ekses-ekses kekerasan yang terjadi pada pertengahan tahun 60an.

Sudira menunjuk bahwa kini situasi sudah beda, identitas orang Bali yang masih sangat  berakar pada pelaksanaan adat yang sangat memakan waktu hingga parameter kegiatan mereka sulit dicocokan dengan kondisi moderen. Kepentingan bersama semakin sulit ditemukan – namun ironisnya kebanyakan pihak pendatang baru berada di Bali justru karena bagi mereka kebudayaan setempat melahirkan suasana ekonomis yang menjadi ‘gula’ untuk ‘semut’.

Senada dengan itu seorang Ibu asli Bali yang lama merantau ke Jakarta, mengaku shock saat kembali bermukim disini, “semua sudah demikian garang, perilaku bahkan menjadi lebih keras ketimbang Jakarta, dan Bali seolah tinggal komoditas untuk dijual”. Bahkan Pino Confessa, seorang seniman teater kelahiran Itali  yang sudah puluhan tahun bermukim di Bali dan sekarang menjabat sebagai konsul Itali disini, berpendapat bahwa ini semua akibat mitos-mitos komersil dan TV yang telah menggantikan mitos-mitos lama “Masyarakat sekarang bengong dengan sinetron..”.

Di pihak lain, seorang pelukis pendatang dari Jawa yang tinggal di Kuta, Pandji, merasa bahwa sah-sah saja kalau pendatang yang sudah punya ‘watak urban’ dapat meraih kesempatan-kesempatan yang dilalailkan oleh penduduk setempat. Ia malah bertanya, kenapa para pendatang kelas ekonomi rendah yang bekerja keras mendukung ekonomi harus selalu dihasut, contohnya penggerebekan tengah malam yang dilakukan oleh pecalang  dan sebagainya. Dengan membagi pengalaman-pengalaman langsung, masing-masing kelompok sempat saling membuka mata akan kegentingan situasi masing-masing.

Tentunya saat diskusi ada pertanyaan mengenai pembangunan fisik – seorang mahasiswi planologi berkomentar tentang daerah yang menjadi langganan banjir setelah pembangunan, ada juga yang menunjuk kurangnya lahan sebagai pemicu – observasi yang valid, namun tetap terjadi suatu konsensus bahwa interaksi sosial berbagai unsur masyarakat tak bisa diabaikan sebagai faktor penentu dalam perencanaan kota,  dan interaksi inilah yang paling menentukan masa depan daerah urban Bali. Keadaan Bali tidak bisa disamakan dengan perkembangan daerah atau negara lain dimana kesepakatan lebih mudah tercapai. Di Bali revolusi agragris, industrial, ekonomis dan teknologi terjadi serempak – tidak heran kalau terjadi pergesekan yg merugikan. Konsensus dari diskusi itu juga mempertegas bahwa tidak bisa mengharapkan pemecahan dari pemerintah, dari aturan baru, dari lembaga-lembaga.

Yang dapat saya simpulkan dari acara tukar-pikiran ini adalah bahwa masyarakat madani sekarang harus lahir dari diri kita sendiri, melihat bahwa tokoh-tokoh panutan yang kuat kini absen. Kini kita yang harus bisa mengolah jiwa dan raga menjadi jaringan komunikatif yang saling mendukung, yang saling membantu mencari jalan menghindari pola parasit – membentuk pola masyarakat madani bersama yang lintas etnis, agama, dan kelompok lainnya  tanpa mengancam identitas masing-masing.

Kini pola demikian tidak semata harapan abstrak. Kita memiliki berbagai kondisi yang mendukung, solusi yang positif semakin mudah di akses dan dibagi dengan bahasa yang lebih universal, apalagi dengan media internet. Sebagai contoh, baru-baru ini di India masyarakat madani berhasil memaksa reformasi pemerintah terhadap korupsi dalam tempo 4 hari (http://www.thehindubusinessline.com/features/article1628396.ece). Bagi penduduk Bali, menjadi masyarakat madani adalah sesuatu yang dapat tercapai. Tinggal kemauan dan kecerdasan yang lahir dari ‘sharing’.

Bali, 19 April 2011