Tampilkan postingan dengan label kota kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kota kita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Juli 2012

Menuju Aksi Perdana Sanur Community Market




Pasar organik 'Sanur Community Market'.
Dimotori teman-teman Healthy Food Healthy Living 
bekerja sama dengan Satvika Bhoga dan Akarumput.

Pasar organik ajang di mana komunitas-komunitas pangan dan lingkungan 
serta petani-petani organik lokal menjajakan produk, program, 
dan kisah di balik itu semua kepada masyarakat luas.

Penuh harap dari kegiatan ini terjalin sinergi antar komunitas kreatif peduli lingkungan.
Penuh harap pula ada keberlanjutan aksi-aksi dan agenda yang sudah berlangsung.
Dan jelas penuh harap ada apresiasi dan peningkatan partisipasi dari masyarakat awam dan sekitar.

Apa yang dilakukan teman-teman ini hanya langkah kecil 
dalam gegap gempita gerak Bali 
tetapi tetap bermakna besar bagi keberlanjutan kehidupan Bali yang lebih sehat.
Langkah kecil yang dimulai dari pojokan Sanur. 
Juga pojok-pojok lain Nusantara.

Salut untuk langkah perdana teman-teman 'Sanur Community Market'!

Mari kita terus ber-'gerak' dan berkarya di mana-kapan pun kita berada!

- Errik Irwan -
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------








I
I
I







Senin, 17 Oktober 2011

Soal Bio Gas





Ada sebuah bangsa yang menggunakan kotoran manusia untuk memupuki kebunnya. 
Kotoran manusia ini bahkan diperjualbelikan di pasar. 
Ini tradisi dan benar-benar dianggap barang berharga.
Memang terasa menjijikkan dan terbelakang bangsa model beginian (apalagi ditambah kebiasaan jarang mandi) bagi kita.
Itulah Korea tahun 50-an. Ya Utara, ya Selatan.

Itulah hal menarik sekali yang saya baca dari buku Catatan Perang Korea karya Mochtar Lubis. Memang tepatlah dia satu-satunya jurnalis republik ini yang diundang ke sana tahun itu.

Dan mari benar-benar kembali obrolkan hal-hal sekarang.
Ini tentang Obrolan Rabu Malam (OBRAL) 28 September 2011.
Ini tentang "Green! Lifestyle atau Way of Life?"

Minggu, 17 Juli 2011

Tentang SANGKAR KLUSTER

Mari meluangkan waktu sejenak membaca tema Kompas Minggu, 17 Juli 2011. Jika kemakmuran, pembangunan pasca kehancuran Perang Dunia 2 & keinginan hidup yang tertib-baik-mapan melahirkan generasi Baby Boomers dua dekade kemudian yang berciri 'anti kemapanan' (yang berpengaruh pada musik, fashion, cara pandang, religiositas, & produk budaya lainnya) di Dunia Barat khususnya Amerika Serikat, kira-kira apa yang akan terjadi dengan Indonesia dua dekade mendatang? Apa lebih individualistik? Lebih terbuka pemikirannya? Apa Indonesia lebih kokoh? Pola masyarakatnya? Kegiatan ekonominya? Produk budaya yang seperti apa yang muncul? Dampak ke arsitektur-desain-dsb? Semoga sempat kita mereka-rekanya. Selamat membaca.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Mencari Bahagia di Sangkar Kluster

Perumahan kluster atau tertutup hanya menggunakan satu pintu untuk masuk dan keluar, seperti di Perumahan Bintaro View, Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (15/7)
Oleh: Nur Hidayati


Rasa aman, kenyamanan, dan privasi adalah kemewahan yang ingin dikejar lewat permukiman kluster. Namun, keterpisahan dengan masyarakat sekitar nyatanya kerap mengundang kesepian. 

Sabtu, 25 Juni 2011

Kampung Bersuara (Saatnya)


Ide komik ini didapat pada 30 September 2010 terinspirasi dari gerakan teman-teman arsitektur dan non-arsitektur yang mendampingi kampung-kampung di beberapa kota, khususnya Solo. Ide komik ini juga muncul sebagai keprihatinan dan sekaligus kritik penulis terhadap teman-teman muda arsitektur dan non-arsitektur yang begitu sibuk dengan dunia pribadinya. Mungkin komik ini juga menjadi kritik terhadap diri penulis sendiri ketika juga terlalu sibuk dengan dunia pribadi sendiri. Namun juga komik ini merupakan dukungan pribadi terhadap gerakan teman-teman agar terus hidup sementara penulis sendiri belum bisa berpartisipasi nyata (karena masih sibuk dengan dunia pribadi sendiri).

- - -

“Bukan melalui retorika gegap gempita, ataupun bermain politik dengan kaum elite, melainkan dengan menanamkan akar-akar pranata yang beradab-berkeadilan di bumi nyata, dengan belajar dan membangun bersama dengan rakyat di kampung-kampung. Sebab, mayoritas bangsa Indonesia tinggal di kampung-kampung. Sebab, kampung, sebagai satuan terkecil permukiman dan masyarakat, merupakan benteng terakhir pertahanan rakyat dari kekuatan-kekuatan yang buas-menindas. Dari sanalah demokrasi, sebagai landasan pranata beradab-berkeadilan yang kita cita-citakan, semestinya dibangun.”

- Darwis Khudori dalam sampul bukunya, “Menuju Kampung Pemerdekaan” -


- - -


 Bagaimana teman-teman arsitektur dan non-arsitektur? Bagaimana generasi muda?


?

- Errik Irwan -

Selasa, 21 Juni 2011

SEMARANG 2100

Mari berkhayal-khayal kota kita.
Setelah sekian generasi ke depan.
Setelah sekian anak muda pulang.
Membawa modal dan intelektual.
Membawa pengetahuan dan ketrampilan.
Bagaimana cara membangun kotanya.
Sehebat-segegap gempita Dubai, Shanghai, Beijing,
Dan kota-kota Hyper-megalopolis negara maju lainnya.
Mari berkhayal-khayal…


Ini Semarang 2100.
Bandara A Yani sudah di Kendal dan lebih besar.
Reklamasi Marina berhasil jadi pusat pertumbuhan ekonomi prestisius!
Universitas-universitas sekarang berciri teknologi tinggi.
Lulusannya bisa menaklukkan tantangan alam.
dan cakap mencakar-cakar langit.
Warga kotanya terlanjur super-kaya.
Investasi dimana-mana.
Singkatnya Semarang 2100 tidak kalah dengan Dubai, Shanghai, Beijing.
Giat membangun, membangun, membangun,…



Membangun, tapi lupa daratan.
Daratannya tak mampu tahan sekian bangunan.
Diperparah pencairan es kutub efek pemanasan.
Ia pun tenggelam ditelan lautan.


Semarang 2100.
Ada Bukit GunungPati, Bukit Gunung Ungaran.
Ada Pantai Bukit Sari, Pantai Bukit Gombel.
Ada Taman Laut Kota Lama, Taman Laut Pemuda, Taman Laut Simpang Lima.
Dan ada wisata jelajah bangunan tua dalam air.
Semarang Kota Air.


Benar-benar hebat!


Sayang, kita cuma berkhayal-khayal kota kita.


Senin, 16 Mei 2011

Pantai Sanur Minggu Pagi 24 April 2011

Pantai Sanur pagi ini ramai seperti Minggu lainnya.
Ada anak-anak kecil yang bersepeda riang. 
Ada mbok-mbok tekun membersihkan sudut-sudut pantai.
Ada nelayan sigap menjala ikan di tepian laut.
Kumpulan keluarga-keluarga ceria.
Ada juga rombongan olah spiritual yang rutin hadir di situ.
Sementara itu sebagian lain pantai sepi rapi, aman dari jamahan non-tamu hotel.

Begitulah suasana manusia yang mengisi alam indah sepanjang perjalanan Pantai Sanur. 
Sebuah simbol dan peta jalur pelarian bahaya tsunami menarik mata sebelum mengakhiri 'patroli' pantai.


Mentari Minggu pagi.
Senyum tanpa beban.
Bersama kawan.
Pengabdian tugas.
Mencari ikan.
Pantai Sanur yang ramai.
Laku olah spritual menyeimbangkan jiwa raga dan alam.



Tanpa jamahan non-tamu.



Tahu ke mana harus berlari jika ada tsunami.


Jumat, 13 Mei 2011

Semarangkan Becakmu





Alat transportasi, rodanya tiga, tapi bukan kendaraan bajaj, bukan juga bemo, apalagi obat nyamuk. Roda tiga yang dimaksud disini adalah sebuah alat transportasi yang terkenal paling ramah lingkungan, yaitu becak. Bukan cuma becaknya yang ramah, terkadang tukang becaknya sendiri juga orangnya ramah.

Dimasa kecil, kita dapat menemukan becak, dimanapun, kapanpun, dan sejauh apapun mata memandang, kita masih bisa melihat penampakan becak. Becak ini seolah-olah menjadi sebuah alat transportasi yang wajib hukumnya untuk dinaiki. Menikmati angin sepoi-sepoi di jalanan yang panjang, tanpa harus mengayuh sekuat tenaga.
Ketika produk otomotif Jepang mulai memasuki Indonesia, saat itu juga becak mulai menghilang satu persatu. Mulai dari tebeng yang hilang, pelanggan yang hilang, hingga tukang becaknya yang hilang. Prinsip “kayuh-mengayuh” mulai berubah menjadi “ngegas-mengegas”. Tanpa menggunakan tenaga penuh untuk memutarkan kaki, sebuah alat transportasi sudah dapat berjalan maju melewati tebasan angin.
Jalanan yang dulunya dipenuhi dengan becak, sekarang malah dipenuhi dengan asap kendaraan yang besarnya nyaris menyerupai becak. Para pejalan kaki harus mengalah ketika berbagi dengan alat transportasi bermesin itu. Menutup muka, hidung, dan mata agar tidak terkena asap jalanan. Polusi udara dimana-mana, kendaraan ber-knalpot dimana-mana, tapi becaknya ada dimana??
Situasi yang tidak menyenangkan ini, memunculkan orang-orang yang kangen dengan udara yang bening. Orang-orang yang tahu bahwa atmosfer mulai bolong-bolong hingga bermotif polkadot . Orang-orang yang tahu bahwa paru-paru bumi sudah mulai rusak. Orang-orang yang tahu, bahwa sepeda adalah solusinya.

Dengan sepeda, mereka dapat kembali menikmati angin sepoi-sepoi. Prinsip “kayuh-mengayuh” mulai kembali populer, melawan ganasnya prinsip “ngegas-mengegas”. Munculnya komunitas sepeda, diikuti pula dengan program “car free day”, sebuah program tanpa kendaraan berknalpot dijalanan. Walau hanya berlaku di beberapa jalanan, dan lebih tepat disebut sebagai “car free hours” karena hanya berjalan selama beberapa jam, bukan sehari.
Sepeda pun pada prinsipnya hampir sama dengan becak, yaitu sama-sama “kayuh-mengayuh”. Bila sepeda bisa menjadi populer sekarang ini, maka kelak becak pun bisa menjadi sebuah solusi juga. Becak pun juga dapat bersaing dijaman yang serba mesin.

Salah satu bukti bahwa becak memiliki potensi untuk bersaing dikerasnya jaman yaitu, masih dapat ditemukannya becak lengkap dengan tukang becaknya, walaupun hanya segelintir kecil saja. Dan untuk lebih meyakinkan bahwa becak memang benar-benar mampu bersaing, maka diadakanlah sebuah acara, dimana becak ini dapat peran sebagai pemeran utama.
Pemeran utama dalam sebuah acara pameran utama. Dengan berbagai karya anak bangsa, yang mengusung tema becak, menjadi sebuah respon, jawaban, tanggapan, ungkapan, yang tak terbataskan.
Pameran “Semarangkan Becakmu”, adalah sebuah pameran yang diperankan oleh becak yang memang ber domisili di kota Semarang. Berbagai karya yang ditampilkan, terinspirasi dari sebuah kendaraan beroda tiga dan digabungkan dengan kreatifitas yang ada. Hasil kolaborasi dari ilmu yang ada, dengan alat transportasi tradisional.
Pameran "Semarangkan Becakmu"

-pembukaan-
Rabu, 18 MEI 2011, pukul 10.00

-pameran
Rabu, 18 MEI 2011, pukul 10.00-16.00
Kamis-Jumat, 19-20 MEI 2011, pukul 09.00-16.00



Kamis, 05 Mei 2011

Masjid Layur Kampung Melayu


Masjid Layur merupakan salah satu bangunan kuno berupa masjid tua di kota Semarang ini disebut pula Masjid Menara Kampung Melayu. Lokasi Masjid Layur ini mudah dijangkau, dari Pasar Johar ke arah Kota Lama melalui Kantor Pos Besar jalan Pemuda, sebelum Jembatan Berok belok kiri. Bangunan masjid sendiri tidak bergaya Arab, tetapi memiliki lebih banyak unsur lokal. Lantai bangunan setangkup tersebut dinaikkan dan hanya dapat dicapai dengan tangga yang terdapat pada sisi muka. Walaupun sudah dimakan usia namun masjid ini masih kokoh dan masih digunakan oleh masyarakat sekitar untuk beribadah. Sampai sekarang masjid ini masih terus dirawat oleh yayasan masjid setempat sebagai upaya pelestarian sejarah dan sebagai masjid tua kebanggaan Kota Semarang. Secara menyeluruh Masjid Layur masih asli seperti pertama kali dibuat, hanya ada sedikit perbaikan seperti penggantian genteng dan penambahan ruang untuk pengelola pada sisi kanan kompleks masjid.
Dinamakan Kampung Melayu karena sudah merupakan tempat hunian pada tahun 1743 yang sebagian besar orang yang mendiami kawasan tersebut adalah orang melayu. Pada masa tersebut di kampung ini terdapat tempat untuk mendarat kapal dan perahu yang membawa barang dagangan. Lokasinya yang sangat strategis mengundang orang untuk berdiam disitu pula. Dicatat bahwa orang-orang dari Arab kemudian menempati kampung tersebut. Pada masa itulah kiranya masjid yang telah ada dikembangkan lagi dan memperoleh pengaruh yang dapat dilihat sekarang. Berpengaruhnya orang Arab di situ diperkuat oleh catatan Liem (1930) yang menyebutkan bahwa usaha pendirian klenteng oleh masyarakat Cina yang tidak begitu banyak jumlahnya di kampung tersebut ditentang habis-habisan oleh penduduk keturunan Arab pada tahun 1900. Penambahan menara pada bagian depan masjid menyebabkan masjid juga terkenal dengan nama masjid menara.


http://seputarsemarang.com/masjid-layur-kampung-melayu-8321

Jumat, 29 April 2011

Car Free Deh

Ketika isu 'green' berkolaborasi dengan kemajuan teknologi informasi, sedikit ditambah bumbu 'ababil' (abege 'anak baru gede' labil) cap 'OKB' (Orang Kaya Baru), hasilnya adalah rasa perpaduan hidup yang indah...... 


Sebuah tren 'fashion' masyarakat serba kini.

Ide didapat selama workshop arsitektur 'Dimanakah Batas Bali?' 2 April 2011. Entah sampai dimanakah kelanjutannya.

Senin, 25 April 2011

Jalan Pahlawan Semarang Resmi Jadi Area Car Free Day

Semarang, CyberNews. Jalan Pahlawan di Kota Semarang sebagai area car free day resmi dibuka Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo, Minggu (20/2) pagi. Pembukaan Jalan Pahlawan yang termasuk Kawasan Simpang Lima sebagai lokasi car free dayini adalah yang kedua setelah di Jalan Pemuda.

Selain itu, Jalan Pahlawan juga dinyatakan sebagai kawasan bebas polusi. Hal ini sekaligus dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun ke-61 Suara Merdeka yang jatuh pada 11 Februari lalu.  Berbagai kegiatan digelar, seperti bersepeda dan jalan santai yang dimulai dari Jalan Pemuda menuju Jalan Pahlawan. Start peserta yakni dari Kantor Wali Kota Semarang dengan dilepas Bibit Waluyo, didampingi Wali Kota Semarang Soemarmo HS berserta isteri dan CEO Suara Merdeka Group Kukrit Suryo Wicaksono. Ribuan peserta turut memeriahkan acara tersebut. Tidak ketinggalan berbagai komunitas sepeda, di antaranya Suara Merdeka Bicycle Club (SMBC). Gubernur pun tak mau ketinggalan untuk ikut mengayuh sepeda bersama istri. Demikian pula dengan Soemarmo HS dan Kukrit Suryo Wicaksono. Adapun rute yang dilalui peserta adalah Jalan Pemuda-Jalan Pandanaran-Simpang Lima-Jalan Pahlawan (Taman KB atau Menteri Supeno). Sampai di Taman KB, seraya menunggu door prize, peserta menyaksikan kolaborasi seni pertunjukkan sejagad yang ditandai dengan pemecahan rekor Muri. Pertunjukan ini adalah kolaborasi antara perkusi (Afrika, Amerika Latin), capoeira (Brazil), dan Reog Ponorogo Jawa Timur, serta Barongsai (China). Penghargaan MURI juga diberikan kepada Wali Kota Semarang selaku pencetus ide acara tersebut, Dekase (Dewan Kesenian Semarang) selaku penata artistik, CEO Suara Merdeka selaku pemrakarsa acara dan TVB selaku televisi offisial.  Dalam sambutannya, Soemarmo HS mengatakan, Jalan Pahlawan dan Kawasan Simpang Lima mulai hari Minggu ini pukul 06.00-09.00 akan ditutup untuk car free day. Setelah sebelumnya selama sekitar tiga bulan areacar free day hanya di Jalan Pemuda. "Hal ini untuk upaya meningkatkan perekonomian rakyat meskipun peran pemerintah kota Semarang masih sedikit," ujarnya. Peresmian acara secara simbolis ditandai Gubernur Jawa Tengah dengan pelepasan burung merpati. Hal serupa dilakukan Soemarmo HS dan Kukrit Suryo Wicaksono.  Diharapkan, Kawasan Simpang Lima dan Jalan Pahlawan sebagai tempat rekreasi dan olahraga. "Jika kita semua bersama-sama mendukung kegiatan ini, maka Kota Semarang akan setara dengan kota-kota lainnya," tambahnya.
( Yulianto , Bambang Isti / CN16 / JBSM )

Rabu, 20 April 2011

PARASIT DI “PARADISE”

(Pada tanggal 16 April 2011 berlangsung diskusi "Urbanisasi Bali di Masa Depan" di Danes Art Veranda, Denpasar, sebagai rangkaian kegiatan dari pameran "Urbanities - Solo Photography Exhibition" oleh Rio Helmi. Berikut secuil ulasan isi diskusi tersebut yang ditulis oleh Rio Helmi. Selamat menikmati!)
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
 
Urbanities - Solo Photography Exhibition by Rio Helmi, 15-29 April 2011, Danes Art Veranda, Denpasar.


Senja di persimpangan bundaran jalan arterial kawasan Kuta itu sedemikian ruwet sehingga mudah memahami kenapa julukan “Simpang-Siur” sudah lengket dari tahun ke tahun. Disini hampir setiap saat rame, dan sinar lampu stop-an merah berarti ‘jalan’ bagi anak-anak yg berbaju lusuh. Mereka menyusuri mobil-mobil mewah dengan tangan terulur, menunggu uluran kembali dari penumpang-penumpang yang berdiam diri dibelakang kaca jendela. Anak yang lahir di desa tandus di balik gunung nun jauh ke timur, bumi yang tidak punya kasih, dipaksa bercekeran di aspal. Mereka  memahami kota dari perspektif yang tak ternyana oleh para perencana tata kota.

Bandar yang turun tengah malam untuk mengumpul duit mereka pun tidak terlalu repot berkasih sayang. Jujur kata, dari sekian ribu pengemudi dan penumpang pun yang berhenti di lampu stop-an itu, sedikit  yang benar-benar memperhatikan anak-anak itu, apalagi memikirkan nasib mereka, dan mungkin lebih sedikit lagi yang bertanya “Bagaimana ini bisa terjadi?”. Toh anak-anak itu adalah rang terendah pada tangga urban baru di Bali yang semakin sesak diinjak-injak, perkotaan yang semakin mendesak manusianya untuk membela kepentingannya masing-masing.

Memang selama tiga dasawarsa terakhir Bali menjadi rebutan, antara orang Bali, antara pendatang dari pulau lainnya di Nusantara, antara para expat yang menikmati “Paradise”. Ironisnya lama-lama bukan “paradise” yang menonjol tapi “parasite”. Saya yakin bahwa pernyataan ini akan tidak enak didengar, terutama oleh penduduk yang mencintai pulau ini. Namun kalau kita telaah kata ‘parasit’ ia adalah bentuk kehidupan yang tidak mengenal “co-dependency” tapi hanya “dependency”. Bentuk kehidupan ini akan hinggap dimana ia bisa menghisap  zat-zat yang dibutuhkannya, tapi tidak membalas budi alam bentuk signifikan. Dalam bentuk ekstrimnya, ‘tuan rumah’nya sang parasit bahkan bisa terhisap kering habis, mati tercekik.
Pola pemikiran parasit tidak melihat langkah lebih jauh dari sekedar kebutuhan hari ini. Ketidakmampuan memandang ke depan serta tidak memahami kepentingan bersama berakibat fatal, dan sesungguhnya adalah pola biadab. Anak-anak yang dikorbankan demi keuntungan orang tua adalah gejala infeksi parasit yang paling parah. Ada juga perilaku kita yang tidak senyata itu tapi tetap juga tindakan yang saling merugikan – contoh sederhana menyerobot antre, tidak bisa mengalah sejenak di perempatan lalulintas, dan sebagainya yang akhirnya membuat kesemrawutan. Daerah urban seolah menjadi tambang emas liar.

Saya ragu mengatakan bahwa ini adalah sifat hakiki manusia Indonesia moderen, saya lebih cenderung berpikir ini terjadi karena kita telah mengabaikan langkah penting dalam perkembangan urban dan masih bisa dikoreksi. Dalam desakan luar biasa yang terjadi kini di Bali (menurut sensus 2010, ada wilayah di Denpasar yang kepadatan penduduknya melebihi sembilan ribu lima ratus jiwa per kilometer persegi) banyak yang tidak sengaja bahkan tidak sadar menjadi parasit. Pola-pola kemasyarakatan lama terbengkelai, pola baru tidak terbentuk. Inilah keluhan yang terdengar saat diskusi tentang urbanisasi Bali baru-baru ini yang diselenggarakan sehari setelah pembukaan pameran foto "Urbanities" (http://www.thejakartaglobe.com/home/e-java-aims-to-go-paperless-in-2012/436429) .

Dalam diskusi tersebut dua tokoh ‘opinion-maker’ Bali, yaitu wartawan kawakan Bali Wayan Juniartha (“Jun”) dan penulis kolom Obrolan Bale Banjar di harian Bali Post, Made Sudira (“Aridus”), menunjuk hilangnya tokoh-tokoh panutan lama, baik Hindu Bali, Muslim maupun yang lainnya, sebagai faktor yang turut memperparah ketegangan antar kelompok masyarakat yang kini terjadi.


Menurut Jun, dengan adanya perubahan tatanan sosial (kelas menengah baru dsb) serta masuknya elemen jurus agama  didikan luar (bagi Hindu dari India, bagi Muslim dari Pakistan dst) generasi muda telah melupakan kode-kode interaksi antar golongan, antar etnis, antar agama. Terlupakan sudah bagaimana kerajaan-kerajaan Bali mempunyai hubungan khusus dengan kaum pendatang. Di Karangasem, misalnya, kampung-kampung Muslim justru membentengi puri. Mereka bahkan ikut mengamankan dan menjaga kebersihan lingkungan pura tempat sembahyang orang Bali. Sebaliknya ongkos naik haji mereka ditanggung oleh raja. Di Denpasar kaum Bugis pun dulu punya perjanjian khusus dengan Puri Pemecutan.

Sudira menekankan kurangnya komunikasi dan pengertian tentang kepentingan antar masing-masing kelompok. Dulu pada zaman ORLA dia turut membentuk organisasi informal terdiri dari pemuda-pemuda dari berbagai golongan etnis maupun agama untuk membentengi ekses-ekses kekerasan yang terjadi pada pertengahan tahun 60an.

Sudira menunjuk bahwa kini situasi sudah beda, identitas orang Bali yang masih sangat  berakar pada pelaksanaan adat yang sangat memakan waktu hingga parameter kegiatan mereka sulit dicocokan dengan kondisi moderen. Kepentingan bersama semakin sulit ditemukan – namun ironisnya kebanyakan pihak pendatang baru berada di Bali justru karena bagi mereka kebudayaan setempat melahirkan suasana ekonomis yang menjadi ‘gula’ untuk ‘semut’.

Senada dengan itu seorang Ibu asli Bali yang lama merantau ke Jakarta, mengaku shock saat kembali bermukim disini, “semua sudah demikian garang, perilaku bahkan menjadi lebih keras ketimbang Jakarta, dan Bali seolah tinggal komoditas untuk dijual”. Bahkan Pino Confessa, seorang seniman teater kelahiran Itali  yang sudah puluhan tahun bermukim di Bali dan sekarang menjabat sebagai konsul Itali disini, berpendapat bahwa ini semua akibat mitos-mitos komersil dan TV yang telah menggantikan mitos-mitos lama “Masyarakat sekarang bengong dengan sinetron..”.

Di pihak lain, seorang pelukis pendatang dari Jawa yang tinggal di Kuta, Pandji, merasa bahwa sah-sah saja kalau pendatang yang sudah punya ‘watak urban’ dapat meraih kesempatan-kesempatan yang dilalailkan oleh penduduk setempat. Ia malah bertanya, kenapa para pendatang kelas ekonomi rendah yang bekerja keras mendukung ekonomi harus selalu dihasut, contohnya penggerebekan tengah malam yang dilakukan oleh pecalang  dan sebagainya. Dengan membagi pengalaman-pengalaman langsung, masing-masing kelompok sempat saling membuka mata akan kegentingan situasi masing-masing.

Tentunya saat diskusi ada pertanyaan mengenai pembangunan fisik – seorang mahasiswi planologi berkomentar tentang daerah yang menjadi langganan banjir setelah pembangunan, ada juga yang menunjuk kurangnya lahan sebagai pemicu – observasi yang valid, namun tetap terjadi suatu konsensus bahwa interaksi sosial berbagai unsur masyarakat tak bisa diabaikan sebagai faktor penentu dalam perencanaan kota,  dan interaksi inilah yang paling menentukan masa depan daerah urban Bali. Keadaan Bali tidak bisa disamakan dengan perkembangan daerah atau negara lain dimana kesepakatan lebih mudah tercapai. Di Bali revolusi agragris, industrial, ekonomis dan teknologi terjadi serempak – tidak heran kalau terjadi pergesekan yg merugikan. Konsensus dari diskusi itu juga mempertegas bahwa tidak bisa mengharapkan pemecahan dari pemerintah, dari aturan baru, dari lembaga-lembaga.

Yang dapat saya simpulkan dari acara tukar-pikiran ini adalah bahwa masyarakat madani sekarang harus lahir dari diri kita sendiri, melihat bahwa tokoh-tokoh panutan yang kuat kini absen. Kini kita yang harus bisa mengolah jiwa dan raga menjadi jaringan komunikatif yang saling mendukung, yang saling membantu mencari jalan menghindari pola parasit – membentuk pola masyarakat madani bersama yang lintas etnis, agama, dan kelompok lainnya  tanpa mengancam identitas masing-masing.

Kini pola demikian tidak semata harapan abstrak. Kita memiliki berbagai kondisi yang mendukung, solusi yang positif semakin mudah di akses dan dibagi dengan bahasa yang lebih universal, apalagi dengan media internet. Sebagai contoh, baru-baru ini di India masyarakat madani berhasil memaksa reformasi pemerintah terhadap korupsi dalam tempo 4 hari (http://www.thehindubusinessline.com/features/article1628396.ece). Bagi penduduk Bali, menjadi masyarakat madani adalah sesuatu yang dapat tercapai. Tinggal kemauan dan kecerdasan yang lahir dari ‘sharing’.

Bali, 19 April 2011