Tampilkan postingan dengan label peran kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peran kita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Juli 2012

Menuju Aksi Perdana Sanur Community Market




Pasar organik 'Sanur Community Market'.
Dimotori teman-teman Healthy Food Healthy Living 
bekerja sama dengan Satvika Bhoga dan Akarumput.

Pasar organik ajang di mana komunitas-komunitas pangan dan lingkungan 
serta petani-petani organik lokal menjajakan produk, program, 
dan kisah di balik itu semua kepada masyarakat luas.

Penuh harap dari kegiatan ini terjalin sinergi antar komunitas kreatif peduli lingkungan.
Penuh harap pula ada keberlanjutan aksi-aksi dan agenda yang sudah berlangsung.
Dan jelas penuh harap ada apresiasi dan peningkatan partisipasi dari masyarakat awam dan sekitar.

Apa yang dilakukan teman-teman ini hanya langkah kecil 
dalam gegap gempita gerak Bali 
tetapi tetap bermakna besar bagi keberlanjutan kehidupan Bali yang lebih sehat.
Langkah kecil yang dimulai dari pojokan Sanur. 
Juga pojok-pojok lain Nusantara.

Salut untuk langkah perdana teman-teman 'Sanur Community Market'!

Mari kita terus ber-'gerak' dan berkarya di mana-kapan pun kita berada!

- Errik Irwan -
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------








I
I
I







Senin, 21 November 2011

BUAH LOKAL YANG TERJUNGKAL, MANGGIS SI RATU BUAH TROPIS


”Bahkan ada pandangan doanya lebih sampai kalau menggunakan buah impor ketimbang buah lokal,”

- I Ketut Sumadi -

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Tentang nasib buah lokal.

Ini tema harian Kompas hari Minggu, 16 Oktober 2011.
Saya baca ini dan Senin pagi saya tulis status fesbuk soal ini.
Saya tulis begini:

"Ini lucu banget deh. Ada pandangan (di Bali) bahwa doa akan lebih sampai kalo sesajinya menggunakan buah impor ketimbang buah lokal. Juga kenyataan negeri paling subur di dunia dengan keanekaragaman buah tropis paling kaya ternyata di pasaran dalam negeri isinya buah impor. Bahkan buah pengembangan orang2 hebat dalam negeri pun dinamai sesuatu yang berbau asing agar dianggap buah impor."


Dan seperti yang saya duga bahwa ini menarik perhatian 
dan menjadi bahan diskusi panjang di kolom komentar. Hanya sayang bahwa teman-teman itu belum sempat membaca artikel lengkapnya dan kesulitan membuka Kompas Cetak versi digital dari komputer markas untuk membagi tulisan tersebut.


Berikut ini dua tulisan diantaranya dari 
harian Kompas hari Minggu, 16 Oktober 2011.


(harap maklum saya baru bisa meneruskan artikel-artikel dan mengingatnya dengan bikin gambar (
Buah Lokal Gak keren, Ayo Bikin Keren). Belum bisa melakukan lebih jauh di lapangan soal cinta tanah air. Tas punggung National Geographic yang sering saya pakai saja ternyata buatan China sebagaimana diberitahu teman saya)

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

BUAH LOKAL YANG TERJUNGKAL

Lihatlah sekeranjang buah atau tataplah deretan buah di balik etalase toko. Menggiurkan, menggoda mata, dan menggugah selera. Ah, sayang di negeri kaya ini, buah cantik dan menggiurkan itu kebanyakan buah impor.


Sabtu, 05 November 2011

Vote Robin Lim For CNN Hero 2011


Di saat kita ramai-ramai mempeributkan sesuatu yang remeh temeh
dan juga di tengah ramai-ramai berita tentang keterpurukkan negeri ini
ada beberapa sosok yang terus bergerak,
senyap dalam sepi,
berbuat sesuatu untuk sesamanya yang membutuhkan.

Sosok-sosok ini bergerak karena dorongan hati.
Tulus, sungguh-sungguh, mengalir wajar, tak berharap gegap gempita.
Kesungguhannya bisa diukur dari waktu,
dari seberapa lama ia telah abdikan dirinya.
Mungkin pula dari pengorbanan
yang tak semuanya bisa diukur dengan matematika.

Ada banyak sesungguhnya sosok-sosok seperti ini.
Salah satunya saja Ibu Robin Lim,
seorang bidan,
mungkin juga seorang ibu bagi kita semua,
yang telah membantu kelahiran di banyak keluarga
utamanya yang tak mampu
dengan berbekal kearifan-kearifan lokal nusantara kita
dan tentu saja cinta.

Mungkin sekilas saja kita tahu dari Kick Andy
atau dari berbagai publikasi lainnya.
Dan mungkin pula hanya sebentar gambaran akan sosok ini bertengger di kepala kita.

Tapi coba tanya pada mereka yang ditolong
ataupun terlibat mengabdi berdampingan bersamanya
ataupun cobalah bertemu langsung menyaksikan dari dekat
atau bahkan mungkin langsung merasakan sentuhan pertolongannya.
Sosok ini tentu akan makin berarti dari sekedar teks-teks.

Saya beruntung berada di Bali.
Sempat melihat dari dekat sosoknya meskipun itu hanya saat presentasi.
Tapi saya lihat sendiri bagaimana ekspresi orang-orang yang pernah ditolongnya
ataupun orang-orang yang terlibat aktif dengannya.
Itu ekspresi-ekspresi luar biasa yang sulit dipetakan dengan kata-kata.

Seandainya rekan-rekan tak seberuntung saya
mungkin saja tulisan yang dibuat rekan-rekan akarumput.com ini,
'Pesan cinta dari Robin Lim',
masih bisa mewakili ribuan kata yang ingin saya utarakan.

Semoga saja kita masih punya cukup waktu dan kemampuan 
untuk bisa membaca dan meresapinya.
Dan semoga pula masih tersisa hari kita untuk sejenak memberikan dukungan.

Saya doakan rekan-rekan punya dan bisa.

- Errik Irwan -




(silakan klik Ibu dan bayi membutuhkan kamu atau Vote Robin Lim untuk CNN Hero 2011)


Senin, 17 Oktober 2011

Soal Bio Gas





Ada sebuah bangsa yang menggunakan kotoran manusia untuk memupuki kebunnya. 
Kotoran manusia ini bahkan diperjualbelikan di pasar. 
Ini tradisi dan benar-benar dianggap barang berharga.
Memang terasa menjijikkan dan terbelakang bangsa model beginian (apalagi ditambah kebiasaan jarang mandi) bagi kita.
Itulah Korea tahun 50-an. Ya Utara, ya Selatan.

Itulah hal menarik sekali yang saya baca dari buku Catatan Perang Korea karya Mochtar Lubis. Memang tepatlah dia satu-satunya jurnalis republik ini yang diundang ke sana tahun itu.

Dan mari benar-benar kembali obrolkan hal-hal sekarang.
Ini tentang Obrolan Rabu Malam (OBRAL) 28 September 2011.
Ini tentang "Green! Lifestyle atau Way of Life?"

Sabtu, 25 Juni 2011

Kampung Bersuara (Saatnya)


Ide komik ini didapat pada 30 September 2010 terinspirasi dari gerakan teman-teman arsitektur dan non-arsitektur yang mendampingi kampung-kampung di beberapa kota, khususnya Solo. Ide komik ini juga muncul sebagai keprihatinan dan sekaligus kritik penulis terhadap teman-teman muda arsitektur dan non-arsitektur yang begitu sibuk dengan dunia pribadinya. Mungkin komik ini juga menjadi kritik terhadap diri penulis sendiri ketika juga terlalu sibuk dengan dunia pribadi sendiri. Namun juga komik ini merupakan dukungan pribadi terhadap gerakan teman-teman agar terus hidup sementara penulis sendiri belum bisa berpartisipasi nyata (karena masih sibuk dengan dunia pribadi sendiri).

- - -

“Bukan melalui retorika gegap gempita, ataupun bermain politik dengan kaum elite, melainkan dengan menanamkan akar-akar pranata yang beradab-berkeadilan di bumi nyata, dengan belajar dan membangun bersama dengan rakyat di kampung-kampung. Sebab, mayoritas bangsa Indonesia tinggal di kampung-kampung. Sebab, kampung, sebagai satuan terkecil permukiman dan masyarakat, merupakan benteng terakhir pertahanan rakyat dari kekuatan-kekuatan yang buas-menindas. Dari sanalah demokrasi, sebagai landasan pranata beradab-berkeadilan yang kita cita-citakan, semestinya dibangun.”

- Darwis Khudori dalam sampul bukunya, “Menuju Kampung Pemerdekaan” -


- - -


 Bagaimana teman-teman arsitektur dan non-arsitektur? Bagaimana generasi muda?


?

- Errik Irwan -

Rabu, 20 April 2011

PARASIT DI “PARADISE”

(Pada tanggal 16 April 2011 berlangsung diskusi "Urbanisasi Bali di Masa Depan" di Danes Art Veranda, Denpasar, sebagai rangkaian kegiatan dari pameran "Urbanities - Solo Photography Exhibition" oleh Rio Helmi. Berikut secuil ulasan isi diskusi tersebut yang ditulis oleh Rio Helmi. Selamat menikmati!)
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
 
Urbanities - Solo Photography Exhibition by Rio Helmi, 15-29 April 2011, Danes Art Veranda, Denpasar.


Senja di persimpangan bundaran jalan arterial kawasan Kuta itu sedemikian ruwet sehingga mudah memahami kenapa julukan “Simpang-Siur” sudah lengket dari tahun ke tahun. Disini hampir setiap saat rame, dan sinar lampu stop-an merah berarti ‘jalan’ bagi anak-anak yg berbaju lusuh. Mereka menyusuri mobil-mobil mewah dengan tangan terulur, menunggu uluran kembali dari penumpang-penumpang yang berdiam diri dibelakang kaca jendela. Anak yang lahir di desa tandus di balik gunung nun jauh ke timur, bumi yang tidak punya kasih, dipaksa bercekeran di aspal. Mereka  memahami kota dari perspektif yang tak ternyana oleh para perencana tata kota.

Bandar yang turun tengah malam untuk mengumpul duit mereka pun tidak terlalu repot berkasih sayang. Jujur kata, dari sekian ribu pengemudi dan penumpang pun yang berhenti di lampu stop-an itu, sedikit  yang benar-benar memperhatikan anak-anak itu, apalagi memikirkan nasib mereka, dan mungkin lebih sedikit lagi yang bertanya “Bagaimana ini bisa terjadi?”. Toh anak-anak itu adalah rang terendah pada tangga urban baru di Bali yang semakin sesak diinjak-injak, perkotaan yang semakin mendesak manusianya untuk membela kepentingannya masing-masing.

Memang selama tiga dasawarsa terakhir Bali menjadi rebutan, antara orang Bali, antara pendatang dari pulau lainnya di Nusantara, antara para expat yang menikmati “Paradise”. Ironisnya lama-lama bukan “paradise” yang menonjol tapi “parasite”. Saya yakin bahwa pernyataan ini akan tidak enak didengar, terutama oleh penduduk yang mencintai pulau ini. Namun kalau kita telaah kata ‘parasit’ ia adalah bentuk kehidupan yang tidak mengenal “co-dependency” tapi hanya “dependency”. Bentuk kehidupan ini akan hinggap dimana ia bisa menghisap  zat-zat yang dibutuhkannya, tapi tidak membalas budi alam bentuk signifikan. Dalam bentuk ekstrimnya, ‘tuan rumah’nya sang parasit bahkan bisa terhisap kering habis, mati tercekik.
Pola pemikiran parasit tidak melihat langkah lebih jauh dari sekedar kebutuhan hari ini. Ketidakmampuan memandang ke depan serta tidak memahami kepentingan bersama berakibat fatal, dan sesungguhnya adalah pola biadab. Anak-anak yang dikorbankan demi keuntungan orang tua adalah gejala infeksi parasit yang paling parah. Ada juga perilaku kita yang tidak senyata itu tapi tetap juga tindakan yang saling merugikan – contoh sederhana menyerobot antre, tidak bisa mengalah sejenak di perempatan lalulintas, dan sebagainya yang akhirnya membuat kesemrawutan. Daerah urban seolah menjadi tambang emas liar.

Saya ragu mengatakan bahwa ini adalah sifat hakiki manusia Indonesia moderen, saya lebih cenderung berpikir ini terjadi karena kita telah mengabaikan langkah penting dalam perkembangan urban dan masih bisa dikoreksi. Dalam desakan luar biasa yang terjadi kini di Bali (menurut sensus 2010, ada wilayah di Denpasar yang kepadatan penduduknya melebihi sembilan ribu lima ratus jiwa per kilometer persegi) banyak yang tidak sengaja bahkan tidak sadar menjadi parasit. Pola-pola kemasyarakatan lama terbengkelai, pola baru tidak terbentuk. Inilah keluhan yang terdengar saat diskusi tentang urbanisasi Bali baru-baru ini yang diselenggarakan sehari setelah pembukaan pameran foto "Urbanities" (http://www.thejakartaglobe.com/home/e-java-aims-to-go-paperless-in-2012/436429) .

Dalam diskusi tersebut dua tokoh ‘opinion-maker’ Bali, yaitu wartawan kawakan Bali Wayan Juniartha (“Jun”) dan penulis kolom Obrolan Bale Banjar di harian Bali Post, Made Sudira (“Aridus”), menunjuk hilangnya tokoh-tokoh panutan lama, baik Hindu Bali, Muslim maupun yang lainnya, sebagai faktor yang turut memperparah ketegangan antar kelompok masyarakat yang kini terjadi.


Menurut Jun, dengan adanya perubahan tatanan sosial (kelas menengah baru dsb) serta masuknya elemen jurus agama  didikan luar (bagi Hindu dari India, bagi Muslim dari Pakistan dst) generasi muda telah melupakan kode-kode interaksi antar golongan, antar etnis, antar agama. Terlupakan sudah bagaimana kerajaan-kerajaan Bali mempunyai hubungan khusus dengan kaum pendatang. Di Karangasem, misalnya, kampung-kampung Muslim justru membentengi puri. Mereka bahkan ikut mengamankan dan menjaga kebersihan lingkungan pura tempat sembahyang orang Bali. Sebaliknya ongkos naik haji mereka ditanggung oleh raja. Di Denpasar kaum Bugis pun dulu punya perjanjian khusus dengan Puri Pemecutan.

Sudira menekankan kurangnya komunikasi dan pengertian tentang kepentingan antar masing-masing kelompok. Dulu pada zaman ORLA dia turut membentuk organisasi informal terdiri dari pemuda-pemuda dari berbagai golongan etnis maupun agama untuk membentengi ekses-ekses kekerasan yang terjadi pada pertengahan tahun 60an.

Sudira menunjuk bahwa kini situasi sudah beda, identitas orang Bali yang masih sangat  berakar pada pelaksanaan adat yang sangat memakan waktu hingga parameter kegiatan mereka sulit dicocokan dengan kondisi moderen. Kepentingan bersama semakin sulit ditemukan – namun ironisnya kebanyakan pihak pendatang baru berada di Bali justru karena bagi mereka kebudayaan setempat melahirkan suasana ekonomis yang menjadi ‘gula’ untuk ‘semut’.

Senada dengan itu seorang Ibu asli Bali yang lama merantau ke Jakarta, mengaku shock saat kembali bermukim disini, “semua sudah demikian garang, perilaku bahkan menjadi lebih keras ketimbang Jakarta, dan Bali seolah tinggal komoditas untuk dijual”. Bahkan Pino Confessa, seorang seniman teater kelahiran Itali  yang sudah puluhan tahun bermukim di Bali dan sekarang menjabat sebagai konsul Itali disini, berpendapat bahwa ini semua akibat mitos-mitos komersil dan TV yang telah menggantikan mitos-mitos lama “Masyarakat sekarang bengong dengan sinetron..”.

Di pihak lain, seorang pelukis pendatang dari Jawa yang tinggal di Kuta, Pandji, merasa bahwa sah-sah saja kalau pendatang yang sudah punya ‘watak urban’ dapat meraih kesempatan-kesempatan yang dilalailkan oleh penduduk setempat. Ia malah bertanya, kenapa para pendatang kelas ekonomi rendah yang bekerja keras mendukung ekonomi harus selalu dihasut, contohnya penggerebekan tengah malam yang dilakukan oleh pecalang  dan sebagainya. Dengan membagi pengalaman-pengalaman langsung, masing-masing kelompok sempat saling membuka mata akan kegentingan situasi masing-masing.

Tentunya saat diskusi ada pertanyaan mengenai pembangunan fisik – seorang mahasiswi planologi berkomentar tentang daerah yang menjadi langganan banjir setelah pembangunan, ada juga yang menunjuk kurangnya lahan sebagai pemicu – observasi yang valid, namun tetap terjadi suatu konsensus bahwa interaksi sosial berbagai unsur masyarakat tak bisa diabaikan sebagai faktor penentu dalam perencanaan kota,  dan interaksi inilah yang paling menentukan masa depan daerah urban Bali. Keadaan Bali tidak bisa disamakan dengan perkembangan daerah atau negara lain dimana kesepakatan lebih mudah tercapai. Di Bali revolusi agragris, industrial, ekonomis dan teknologi terjadi serempak – tidak heran kalau terjadi pergesekan yg merugikan. Konsensus dari diskusi itu juga mempertegas bahwa tidak bisa mengharapkan pemecahan dari pemerintah, dari aturan baru, dari lembaga-lembaga.

Yang dapat saya simpulkan dari acara tukar-pikiran ini adalah bahwa masyarakat madani sekarang harus lahir dari diri kita sendiri, melihat bahwa tokoh-tokoh panutan yang kuat kini absen. Kini kita yang harus bisa mengolah jiwa dan raga menjadi jaringan komunikatif yang saling mendukung, yang saling membantu mencari jalan menghindari pola parasit – membentuk pola masyarakat madani bersama yang lintas etnis, agama, dan kelompok lainnya  tanpa mengancam identitas masing-masing.

Kini pola demikian tidak semata harapan abstrak. Kita memiliki berbagai kondisi yang mendukung, solusi yang positif semakin mudah di akses dan dibagi dengan bahasa yang lebih universal, apalagi dengan media internet. Sebagai contoh, baru-baru ini di India masyarakat madani berhasil memaksa reformasi pemerintah terhadap korupsi dalam tempo 4 hari (http://www.thehindubusinessline.com/features/article1628396.ece). Bagi penduduk Bali, menjadi masyarakat madani adalah sesuatu yang dapat tercapai. Tinggal kemauan dan kecerdasan yang lahir dari ‘sharing’.

Bali, 19 April 2011

Rabu, 30 Maret 2011

ARCHITECTURE FOR HUMANITY

Salam Kampung Kita!

Menindaklanjuti kegiatan inisiasi jejaring kampung kota yang telah dilaksanakan pada tanggal 21 januari 2011 di Universitas Sebelas Maret Surakarta, maka kami mengundang anggota komunitas KAMPUNG KITA untuk berpartisipasi kembali dalam rangkaian acara "Architecture for Humanity" yang puncaknya akan diselanggarakan:


SEMINAR NASIONAL

"MEMBEDAH PERAN ARSITEK DALAM HUBUNGANNYA DENGAN ARSITEK DAN KEMANUSIAAN"



Tempat:
Grha Solo Raya

Waktu:
Minggu, 3 April 2011
09.00-16.30

Pembicara:
- Marco Kusumawijaya (Praktisi Arsitektur)
- Galih Widjil Pangarsa (Akademisi Arsitektur)
- Joko Widodo (Walikota Solo)

Kontribusi:
@Rp 25.000,-





Info lebih lanjut dapat dilihat di poster dan web : bantaran2011@blogspot.com
Mari bersilaturahmi kembali!




Sugeng Rawuh Malih Dhumateng Kitho Solo!



Senin, 28 Maret 2011

"BUNG KARNO! KAU DAN AKU SATU ZAT..."

Dari Kompas hari Minggu, 27 Maret 2011. Sekiranya kita masih punya waktu untuk membaca. Dan (semoga) dengan itu kita pun akan lebih menghargai tulisan dan buku.
================================================================

Pekerja menyortir karya sastra yang dimuat di sejumlah harian di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Jakarta, Kamis (24/3). PDS HB Jassin yang menjadi tempat pendokumentasian kesusastraan Indonesia dari berbagai sumber tersebut kini terancam tutup karena kekurangan dana.

SASTRA MATI DI GUDANG SEJARAH

Bau apak tiba-tiba menyergap begitu pintu sebuah perpustakaan milik yayasan dibuka. Sudah lama listrik dan telepon di situ tidak menyala. Lemari-lemari buku tampak berdebu dan buku-buku yang usianya ratusan tahun sudah melapuk. Sebuah peradaban yang perlahan hancur....

Jelas sekali perpustakaan milik Yayasan Budaya Sulawesi Selatan (YBSS) yang berdiri sejak tahun 1949 di Makassar terbengkalai. Hanya tertinggal Muhamad Salim, ahli bahasa Bugis, dan seorang pembantu bernama Ikhsan yang setia datang.

Sampai tiga tahun terakhir hanya bisa didata 2.809 buku penelitian berbahasa Belanda dan 100 lontarak (naskah di daun lontar) asal Sulsel. Masih begitu banyak koleksi yang belum terdata sehingga jumlah pastinya juga tidak pernah diketahui.

Sejak Ketua Yayasan YBSS Fachruddin Ambo Enre meninggal tahun 2008, kata Salim, yayasan seperti tanpa nakhoda. Tidak ada lagi kepengurusan. Salim bahkan bekerja tanpa honor selama tiga tahun terakhir. Di tempat berdebu dan usang itu sesungguhnya masih tersimpan terjemahan Alkitab dari bahasa Jerman ke bahasa Makassar yang terbit tahun 1892. Ada juga Injil Matius berbahasa Makassar cetakan tahun 1863! Bahkan seorang Belanda bernama Benjamin Frederik Matthes membawa karya sastra terpanjang di dunia, I La Galigo, ke Belanda setelah mendapatkannya dari seseorang.

Terbengkalai

Deretan daftar situs pendokumentasian dan perpustakaan yang notabene menyimpan pengetahuan dan jejak peradaban yang terbengkalai bisa cukup panjang. Belum hilang dari ingatan kita bagaimana Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin harus tertatih-tatih menjalani hari-harinya yang berat. Ketua Dewan Pembina Yayasan PDS HB Jassin Ajip Rosidi bahkan sudah melansir pernyataan akan menutup gudang sejarah itu.

Nasib Perpustakaan Bung Hatta di Jalan Adisutjipto, Yogyakarta, bahkan lebih memilukan. Perpustakaan yang berdiri sejak 1953 itu sudah ditutup tahun 2006. Gedungnya kini bocor di sana-sini, seperti rumah hantu. Menurut Ketua Dewan Pembina Yayasan Hatta Sri Edi Swasono, setidaknya Perpustakaan Hatta menyimpan lebih dari 40.000 buku. Kini buku-buku itu dititipkan di Perpustakaan Universitas Gadjah Mada. ”Semua buku diikat, entah bagaimana perawatannya,” ujar Edi Swasono.

UGM kemudian membuka Hatta Corner di perpustakaan universitas untuk menyelamatkan koleksi buku-buku Bung Hatta. Padahal, di salah satu koleksi buku Hatta ada Asia karya Alonso Viloa yang diterbitkan tahun 1561.

PDS HB Jassin yang di pelupuk mata saja bernasib mencemaskan, apalagi tempat seperti Museum Negeri Sulawesi Tenggara di Kendari. Sekitar 5.000 koleksi benda kuno, termasuk di antaranya 100 naskah tua, boleh dikata sudah rusak karena tak terurus. Sudah sekitar satu dekade museum tidak lagi dapat anggaran perawatan dan pemeliharaan. ”Sejak otonomi daerah tahun 2001, baru sekali dapat anggaran,” kata Kepala Seksi Bimbingan Edukasi Museum Negeri Sultra Rustam Tombili.

Bali yang begitu dikenal dengan perawatan tradisi karena dianggap memiliki nilai ekonomis juga tidak terhindar dari sikap menyepelekan peninggalan peradaban masa lalu. Banyak naskah tua yang tertulis di atas daun lontar yang tersimpan di Gedong Kirtya, Singaraja, Bali, pelan-pelan menuju kehancuran. Rayap-rayap bahkan mulai menggerogoti sebagian naskah.

Sastrawan Dewa Gede Windhu Sancaya yang pernah mendata naskah-naskah di situ menemukan kenyataan ada koleksi yang hilang. ”Koleksi yang hilang itu sulit sekali dilacak,” ujarnya.

Dalam kondisi begitu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Buleleng Putu Tastra Wijaya mengatakan, semua koleksi Gedong Kirtya sudah terawat baik. Tastra membantah bahwa ada naskah tua yang dimakan rayap. ”Itu cuma isu. Koleksi kami terawat dengan baik,” katanya.

Perlu komitmen

Menurut Doktor Ilmu Informasi dan Perpustakaan Universitas Padjadjaran, Bandung, Ninis Agustini Damayanti, perpustakaan dan dokumentasi harus ditangani ahli. Selama ini ada kesan pengelola perpustakaan disamakan dengan penjaga buku. ”Itu persepsi yang sangat keliru,” kata Ninis.

Komitmen pemerintah untuk mendanai kegiatan perpustakaan, katanya, belum kuat. Dananya belum menjadi prioritas. Dokumen dan naskah tua membutuhkan perawatan dan tempat penyimpanan yang layak. ”AC harus dinyalakan tujuh hari seminggu dan 24 jam sehari, tidak boleh mati,” tuturnya.

Di daerah tropis, suhu ruangan dipatok pada angka 20 plus minus 3 derajat celsius. Sementara kelembaban udara pada angka 50 plus minus 3 rh (relative humidity).

Menyaksikan pembiaran terhadap nasib peradaban ini, sekelompok anak muda bergerak cepat lewat jejaring sosial Twitter dan Facebook untuk menggalang solidaritas. Mereka membentuk tim #koinsastra yang dalam waktu cepat memobilisasi kepedulian ke berbagai daerah. Salah satu pencetus #koinsastra, Khrisna Pabhicara, mengatakan, kelompok ini tidak sabar menunggu kehancuran. ”Karena itu, lebih baik kita bergerak menyongsong badai,” katanya.

Setelah melakukan audiensi dengan pengurus Yayasan PDS HB Jassin, mereka sepakat melakukan digitalisasi naskah serta menggalang donasi dari para simpatisan. ”Kami sudah mengumpulkan enam komputer dan dua scanner dari para donatur. Masih kurang empat lagi,” tutur Ahmad Makki, pencetus #koinsastra lain.

Pertanyaannya, apakah dokumen-dokumen tua yang menyimpan peradaban masa lalu harus selalu meruapkan bau apak hingga napas kita sesak? Bukankah di situ dipertaruhkan identitas dan martabat bangsa? Mau apa dan ke mana sebenarnya kita ini.... N(SIN/RIZ/WKM/TOP/DEN/ENG/IND/BSW/CAN)

http://cetak.kompas.com/read/2011/03/27/03153970/sastra.mati.di.gudang.sejarah.
----------------------------------------------------------------------------------------------------


Mahasiswa menggalang dana dalam aksi koinsastra untuk PDS HB Jassin di Kampus Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), Depok, Jawa Barat, Senin ( 21/3).


"BUNG KARNO! KAU DAN AKU SATU ZAT..."


Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin djandji

Aku sudah tjukup lama dengar bitjaramu

dipanggang atas apimu, digarami oleh lautmu

Dari mulai tgl 17 Agustus 1945

Aku melangkah kedepan berada rapat disisimu

Aku sekarang api, aku sekarang laut



Bung Karno ! Kau dan aku satu zat, satu urat

Di zatmu, di zatku, kapal2 kita berlajar

Di uratmu, di uratku, kapal2 kita bertolak & berlabuh

Kutipan di atas adalah puisi karya penyair Chairil Anwar (1922-1949) berjudul Perdjandjian Dengan Bung Karno yang ditulis tahun 1948. Naskah asli tulisan tangan sang penyair itu masih tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin.

Dalam versi aslinya itu, kata ”lama” pada baris kedua tertulis mencuat dan terjepit di antara kata ”tjukup” dan ”dengar”. ”Aku sudah cukup ”lama” dengar bitjaramu....” Di bawah kata itu terdapat contrengan. Ada kesan kata ”lama” sempat lupa tercantumkan. Tentu ini hanyalah penafsiran atas teks asli. Yang jelas, begitulah naskah asli puisi disimpan dan bisa kita nikmati sebagai dinamika zaman perjuangan yang terekam lewat puisi, yang oleh HB Jassin kemudian digolongkan sebagai Angkatan ’45.

Gelegak revolusi itu terekam benar lewat tulisan tangan Chairil. Dan di sanalah, di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, gelegak ”api” dan ”laut” Chairil itu tersimpan. Sungguh memprihatinkan dokumentasi semangat zaman itu dalam kondisi merana terbengkalai sekarang.

Sesudah Chairil Anwar meninggal tahun 1949, karyanya menjadi rebutan para penerbit. Namun, Chairil sudah mengumpulkan sendiri karya-karya sajaknya dan diserahkan kepada PDS HB Jassin.

Surat cinta Motinggo

PDS HB Jassin tidak sekadar menjadi ”gudang” karya sastra, tetapi juga dinamika kehidupan para pelaku sastra dari zaman ke zaman. Jassin memang rajin mengumpulkan tulisan tangan, catatan kecil dan surat-surat yang ditulis para penulis. Surat pernyataan Motinggo Boesje yang asli dengan judul ”Saya Menolak Hadiah Sastra 1962” masih tersimpan di PDS HB Jassin.

Surat pernyataan yang ditulis bulan Januari 1953 itu berisi penolakan Motinggo atas hadiah sastra yang diberikan untuk cerita pendeknya. Menurut dia, ukuran keberhasilan karya sastra tidak dapat diukur dari penghargaan-penghargaan yang diperoleh.

Kisah hidup penulis flamboyan ini juga terungkap dari catatan-catatan kecil yang dikirimkan Mas Mot (panggilan untuk Motinggo Boesje) kepada beberapa perempuan. Dalam catatan itu, Mas Mot menulis puisi cinta lengkap dengan lukisan sketsa ketika sedang rindu, menyesal, atau kangen kepada sang kekasih.

Mari kita baca puisi Motinggo Boesje yang juga ditulis tangan, lengkap dengan ilustrasi bunga-bunga. Kita kutip bait pertama dan terakhir dari puisi karya novelis, cerpenis, dan sutradara itu. Di bawah puisi itu tertera angka tahun 1988.

”Inilah buah indah rasa bersalah/Penyesalan ibarat memindah dua gunung/Masih saja membayang tangismu pagi itu/Air matamu membasuh hati yang berdebu...”

”Sudahlah. Kesekian kali kumohon maafmu/Matamu bagaikan malam dengan dua lampu.”

Jassin menyimpan naskah-naskah yang dikirimkan para pengarang ini dengan takzim, seolah itu amanat yang tidak bisa diabaikan. Sungguh ironis jika kemudian kita membiarkannya tanpa arti, bahkan menganggapnya sebagai coretan berdebu tak bermakna. Dan pengelola PDS HB Jassin, Endo Senggono, mengaku belum semua naskah asli itu disimpan dalam bentuk digital. ”Belum. Masih dalam map begitu saja,” katanya.

Tidak hanya karya sastra. Jassin juga menyimpan dokumen, seperti undangan perkawinan Motinggo dengan Lashmi Bachtiar pada 2 September 1962. Pada keterangan ”Djam” dan tempat tertulis: ”Djam 12.00 s/d 15.00 siang di Djalan Salemba Tengah II No 7 Djakarta”. Nama Motinggo dalam undangan tertulis sebagai Bustami Djalid. Di belakang nama itu tercantum nama senimannya, Motinggo Busje (ejaan sesuai dengan aslinya).

HB Jassin tidak hanya menyimpan, tetapi juga mencatat dengan sangat detail peristiwa berkait dengan sastra dan para pelakunya. Kita tengok bagaimana sepotong kehidupan Pramudya Ananta Toer tercatat dalam buku harian.

Pada hari Kamis 1 Maret 1954, misalnya, HB Jassin menulis, kunjungan Pramudya Ananta Toer pada pukul 19.30-20.15 di rumah Jassin. Pramudya yang baru pulang dari Blora, Jawa Tengah, ini membawa naskah cerita perjalanan. Dari catatan harian itu tergambar dinamika kehidupan penulis Pramudya atau Pram pada masa lalu. Ceritanya, Pram sedang butuh uang segera. Ia sudah memasukkan tulisan perjalanan ke majalah Mimbar, tetapi majalah itu tidak bisa segera membayar honornya. Tulisan Pram itu dirasa Jassin cocok untuk majalah Zenith, tetapi majalah ini sering terlambat terbit.

Setidaknya kita bisa merekonstruksi, betapa pilihan hidup sebagai pengarang seperti Pram penuh dengan kenyataan pahit. Sesungguhnya celaka jika nasib dokumentasi mereka pun kini kita abaikan.

Merana

Dokumen kebudayaan itu tersimpan di antara buku-buku sastra, prosa dan puisi, naskah drama, catatan biografi, tulisan tangan, dan surat-menyurat sastrawan besar di Tanah Air. Sebagian dokumen tersimpan di rak yang berderet memenuhi ruangan, sebagian lagi dibiarkan menumpuk begitu saja.

Tumpukan koran dan majalah tua berjubel di sela-sela rak buku yang sudah tidak muat lagi menyimpan tambahan koleksi. Kondisinya berdebu. Kertasnya sudah lapuk dan berwarna kuning kecoklatan. Benda-benda itu seperti benda bekas yang sudah usang. Sementara di dalamnya tersimpan jejak sejarah yang mencerminkan cara berpikir intelektual kita pada masa lalu.

Di antara tumpukan tadi masih bisa ditemukan majalah yang terbit di Indonesia pada awal Perang Dunia II (tahun 1940), seperti Pujangga Baru dan Panji Pustaka. Ada juga majalah Jawa Baru dan Kebudayaan Timur yang terbit di Indonesia pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945. Koleksi lain yang lebih tua, seperti Kumpulan Sastra Melayu Tionghoa terbitan tahun 1900-1940, tersimpan di dalam sebuah lemari kaca.

Dengan ribuan buku, suasana pusat budaya itu sangat pengap. ”Sudah biasa kalau pengatur suhu udara di sini dimatikan. Dulu ketika pertama kali pusat dokumentasi ini resmi didirikan tahun 1977, enam bulan kemudian kami tidak mampu membayar listrik sehingga AC harus dimatikan total,” kata Harkrisyati Kamil atau Yati, yang pernah menjadi Kepala Dokumentasi PDS HB periode 1979-1983 mengenang.

Agar suhu di ruang dokumentasi tidak panas, Yati dan teman-temannya selalu membuka jendela lebar-lebar, lalu menyalakan kipas angin. ”Untungnya, waktu gedung itu dibangun, saya minta Pemerintah DKI Jakarta membuatkan jendela-jendela berukuran besar,” tutur Yati. Menurut Yati, gedung PDS HB Jassin yang dibangun pada masa Ali Sadikin menjadi Gubernur DKI Jakarta itu awalnya dirancang tanpa jendela.

Dirintis

Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin dirintis oleh penulis, penyunting, dan kritikus sastra almarhum Hans Bague (HB) Jassin. Penulis kelahiran Gorontalo, 13 Juli 1917, ini mengumpulkan dokumentasi sejak tahun 1930. Pada waktu ia masih berusia 13 tahun, HB Jassin gemar menyimpan buku-buku harian, buku-buku sekolah, karangan-karangan yang pernah ditulis di kelas, hingga surat dan foto pribadinya.

Kini pusat dokumentasi itu menyimpan 16.316 judul buku fiksi, 11.990 judul buku nonfiksi, 457 judul buku referensi, 772 judul buku/naskah drama, 750 map berisi biografi pengarang, 15.552 map kliping dari berbagai sumber, 610 lembar foto pengarang, 571 judul makalah, 630 judul skripsi dan disertasi, serta 732 kaset rekaman suara dan 15 kaset rekaman video dari para sastrawan Indonesia. Jumlahnya terus bertambah karena pengelola selalu memperbanyak koleksi. Boleh dibilang, PDS HB Jassin adalah pusat dokumentasi sastra modern Indonesia terlengkap. Bahkan, ada yang menyebutnya terlengkap di dunia, tetapi kenapa nasibnya begitu mengenaskan?

(Lusiana Indriasari/Luki Aulia/Putu Fajar Arcana/Frans Sartono)

http://cetak.kompas.com/read/2011/03/27/0416342/bung.karno.kau.dan.aku.satu.zat...
----------------------------------------------------------------------------------------------------


Anak-anak yang duduk di jenjang pendidikan dasar mengunjungi Perpustakaan Daerah Provinsi DKI Jakarta, Rabu (23/3). Bagi anak-anak, perpustakaan tidak hanya menjadi pusat informasi dan pelajaran, namun juga menjadi sarana rekreasi.

TAMASYA DI TAMAN BUKU

Oleh Budi Suwarna dan Yulia Sapthiani

Indah Widyaningsih (10) dijuluki ”penghuni tetap” Perpustakaan dan Arsip Daerah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Hampir setiap hari sejak tahun 2007, bocah itu rutin berkunjung ke sana.

Siang itu, Senin (21/3), Indah asyik berselancar di internet di Ruang Baca Anak-anak di perpustakaan milik Pemprov DKI. Dia memelototi gambar seekor kadal dan menyimak keterangannya. ”Saya lagi mencari jawaban untuk tugas mata pelajaran IPA,” ujar bocah Kelas V SDN Menteng Dalam 01 Pagi, Jakarta Selatan, itu.

Indah biasanya datang pukul 14.00-an dan pulang pukul 17.00. Dia langsung menuju ke ruang baca khusus anak-anak untuk berselancar di dunia maya. Setelah itu, dia biasanya mengerjakan tugas atau membaca buku. ”Saya paling senang membaca kamus Bahasa Indonesia. Saya jadi tahu arti setiap kata,” ujar Indah.

Indah mengenal perpustakaan itu tahun 2007 setelah bapaknya berjualan makanan di Gedung Olah Raga Soemantri Brojonegoro yang berada tepat di sebelah perpustakaan. ”Saya menemani bapak jualan. Suatu hari saya bosan dan coba-coba masuk ke perpustakaan. Ternyata tempatnya enak,” tuturnya.

Indah pun keranjingan datang ke perpustakaan tersebut. Dia menemukan sesuatu yang orangtuanya belum bisa sediakan, yakni seabrek buku pelajaran, buku cerita, kamus, fasilitas internet gratis, serta ruang belajar ber-AC. Sejak itu, dia tenggelam di perpustakaan itu.

Selain Indah, ada belasan bocah yang larut di taman ilmu pengetahuan itu. Sebagian membaca buku dengan posisi duduk di kursi-kursi mungil, sebagian sambil tiduran di lantai berlapis karpet. Jika bosan dengan satu buku, mereka mengambil buku lain yang ditempatkan rapi di beberapa rak.

Di antara mereka ada Abdul Aziz (12), siswa Kelas VI SDN Menteng Atas 06 Pagi, Setia Budi, Jakarta Selatan, dan tujuh temannya. Mereka belajar bersama untuk persiapan ujian tengah semester yang sebentar lagi tiba. ”Belajar di sini enak, tempatnya adem, bukunya banyak. Kalau di rumah panas, enggak pakai AC,” ujar Abdul.

Suasana serupa terlihat di Rumah Baca Manca milik keluarga Rhenald Kasali dan istrinya, Elisa Kasali, di Pondok Jatimurni, Bekasi. Selasa siang, belasan anak usia TK hingga SD asyik membaca beragam buku cerita sambil lesehan. Jika sudah bosan, mereka bermain di halaman berumput hijau yang dilengkapi aneka mainan.

Tiara (10) sangat senang berada di sana. Dia tidak kelimpungan saat mengikuti pelajaran membaca puisi dan bercerita. ”Bahan cerita tinggal saya ambil dari buku cerita di tempat ini.”

Minat baca

Melihat anak-anak datang rutin ke Rumah Baca Manca, hati Elisa Kasali pun senang. Setidaknya, misinya untuk memfasilitasi kegemaran membaca di kalangan anak-anak menuai hasil. ”Saya tahu anak-anak punya minat baca, tetapi fasilitasnya masih minim.”

Elisa ingat, ketika anak-anak sekitar rumahnya bermain dengan anak keduanya, Adam, mereka betah berjam-jam membolak-balik buku milik Adam. Dari situ, Elisa dan suami membuka rumah baca di rumahnya tahun 1998 untuk anak-anak sekitar.

Dia mengundang murid-murid SD di sekitarnya untuk datang. Awalnya, pihak sekolah menolak ”undangan” itu karena mereka mengira anak-anak akan dikenai iuran. Setelah tahu gratis, mereka berminat, bahkan mendorong murid-muridnya untuk datang ke Manca. Kini, Manca tidak pernah sepi dari pengunjung. Di hari libur sekolah, anak-anak yang datang bisa 150 orang.

Siti Sarah, Kepala Bidang Layanan dan Pelestarian Perpustakaan dan Arsip Daerah Pemprov DKI juga senang dengan kunjungan bocah-bocah SD. ”Kalau dari kecil sudah sering ke perpustakaan, selanjutnya mereka akan senang membaca.”

Dia tambah gembira karena tren kunjungan para bocah ke perpustakaan itu setahun terakhir mengalami kenaikan. Sekadar contoh, Januari 2011, bocah SD yang datang berjumlah 1.194 orang. Februari, jumlahnya naik menjadi 1.314 orang. Jumlah itu sekitar seperempat jumlah pengunjung kategori remaja dan dewasa.

”Kami berusaha terus mendekatkan perpustakaan kepada anak-anak SD. Kami, misalnya, mengadakan kegiatan dongeng setiap Jumat dan setiap hari-hari penting,” ujar Siti.

Perpustakaan juga berusaha merangkul sebanyak mungkin anggota baru. ”Kami bahkan sudah sampai jemput bola. Kalau ada siswa yang ingin daftar menjadi anggota perpustakaan secara kolektif, kami datangi sekolahnya,” kata Siti.

Siti sebenarnya tidak terlalu khawatir dengan minat baca anak-anak SD. ”Minat baca itu bisa dibangkitkan asal pemerintah serius menyediakan perpustakaan hingga tingkat desa seperti diamanatkan UU Nomor 43 Tahun 2007.”

Selain menumbuhkan minat baca, orang Indonesia juga mesti diajarkan etika di perpustakaan. ”Banyak orang mengambil buku, melihat-lihat, lantas menaruh kembali ke rak tanpa memerhatikan nomor katalognya. Itu bikin kacau,” ujar Anton Holtzapffel, pustawakan Perpustakaan Erasmus Huis di Kedutaan Besar Belanda, Jakarta.

Itu belum seberapa. Siti sering mendapati koleksi buku di perpustakaan yang dikelolanya dirobek atau ditulisi kalimat tidak senonoh. ”Itu justru dilakukan pengunjung dewasa. Kalau anak-anak tertib. Memulangkan buku pun tepat waktu.” (ROW)

http://cetak.kompas.com/read/2011/03/27/04170487/tamasya.di.taman.ilmu

================================================================