Senin, 21 November 2011

Belajar Sesuatu di Studio Akanoma - Yu Sing

Berada di pinggiran kota sebesar Bandung, lebih tepat di sebuah kampung pedesaan Padalarang, di tengah-tengah rerimbunan bambu, kebun-kebun, kampung, jalan tanah berbatu, sempit tapi cukup dilalui satu mobil, jelas ini bukan lokasi yang mudah dicapai walaupun dari situ terlihat jelas jalan tol Purbaleunyi memotong kaki bukit di seberang.

Tampak Luar Studio Akanoma - Yu Sing
Membuat studio arsitektur di lokasi tersebut bisa jadi semacam biara pengasingan sekaligus penghilang keterasingan kepada lingkungan mayoritas masyarakat kita. Ya, sebagian besar masyarakat kita tidak lepas dari hal-hal seperti kampung, kebun pertanian, jalan-jalan yang buruk, dan sebagainya. Tampaknya ini yang coba dicari (atau kebetulan didapat) oleh Yu Sing pada studio yang ia pindahkan dari hiruk pikuk kota Bandung.

Sepintas, dari kejauhan, bangunan joglo, kumal, dengan dinding aneh dari kaca bekas mobil yang masih bagus di bagian kanan bangunan. Bayangan kemegahan arsitektur luntur seketika. Tidak ada gaya-gaya clean cut - serba mulus, yang ada, tambal sulam di sana-sini. Tidak ada material serba mahal, awet, dengan kualitas internasional, yang ada cuma bambu-bambu khas rumah kampung, barang bekas, kualitas kampung.

Begitu masuk, melewati dinding ram kawat, hanya ada ruang kosong dengan ceruk di tengah-tengah. Ah.. bayangkan di ceruk itu diisi dengan air panas, bisa betahlah berendam di situ. Di setiap sudut ceruk ada kolom beton dengan empat cabang pada setiap kolom  menopang joglo di atasnya. Menarik. Sedangkan di bagian kanan ada ruang dengan pintu kaca, seperti kantor-kantor pada umumnya, dengan dinding dari krat-krat minuman. Ternyata sebuah perpustakaan akan diletakkan di ruang itu, ide mirip yang dilakukan Achmad Tardiyana pada rumah bukunya. Krat-krat minuman itu berfungsi sebagai rak-rak buku, cukup kuat. Sedangkan di bagian bawah perpustakan coba dimanfaatkan untuk kolam lele.

Di sebelah ruang perpustakaan terdapat pintu masuk ke tangga menuju lantai atas, tangga dari bambu. Nah, ini dia dinding aneh itu, dinding dari kaca-kaca mobil, masih utuh, yang tidak laku dijual lagi. Kaca-kaca mobil tersebut cukup dijepit kemudian diikat dengan kawat menuju batang-batang bambu. 

Kaca-kaca mobil bekas
Di lantai atas inilah terdapat sebuah joglo, Yu Sing mendapatkannya dari  Solo. Pada awal pembangunan studio ini, buru-buru ia merampungkan struktur beton di bawah yang akan menyangga joglo tersebut, karena pembelian joglo sudah termasuk perakitan. Sangat sayang bila tidak dimanfaatkan, mengingat perakitan joglo tidaklah mudah. Akibatnya, struktur beton menjadi kurang sempurna. Beberapa bagian retak lalu diperkuat . Ini jadi pembelajaran. 

Yu Sing juga memperpanjang tritisan atap joglo,  kemudian ia memberi beberapa batang pipa besi, miring membentuk huruf V sebagai penyangganya. Pipa-pipa ini menyambung pada talang di sekeliling atap,membuatnya berfungsi ganda : penyangga juga talang air hujan.

Suasana Studio
Warung Akanoma
Joglo inilah area kerja Yu Sing dan staf-staf nya, ruang tanpa sekat ,sudah termasuk di dalamnya dapur yang lebih mirip warung. Meja-meja kerja diletakkan di tepi ruangan, dekat dengan jendela dari nako kaca dan kombinasi tripleks bekas bekisting. Di seberangnya dapur dengan jendela lipat, saat dibuka suasana menjadi seperti warung kampung, hanya saja kurang satu hal : perlu digantungkan beberapa renteng-an krupuk, shampo, makanan ringan, dsb (:p). Meja dapur dirancang dapat dibuka-tutup untuk menyimpan beberapa peralatan masak dan makan, sedangkan beberapa rempah-rempah dan bumbu dapur disimpan pada krat-krat minuman yang diletakkan menjadi ambang jendela. Pada bagian luar dapur sudah pula diletakkan bangku panjang. Benar-benar warung!

Bagian belakang bangunan terdapat bangunan tempat beberapa staf dan mahasiswa magang tinggal sementara, seperti penginapan, tetapi beberapa masih kosong-tidak ada tempat tidur, dan sebagian dimanfaatkan untuk ruang pertemuan dengan klien. Sementara kamar mandi ada di belakang "penginapan" ini dirancang dengan detail-detail unik.


Lansekap juga tidak lepas dari perencanaan, saat ini pada bagian belakang lahan masih tampak susunan batu berundak, semakin tinggi ke belakang mengikuti kontur lahan , melengkung,  diikat kawat (bronjong)  dan di antara susunan tersebut dibuat beberapa lubang biopori.

3 jempol untuk studio Akanoma !!!
 


Selasar "Penginapan" Akanoma

Botol Kaca untuk gantungan pakaian
Dinding Bambu "Penginapan" Akanoma

Susunan Bambu harus benar-benar rapat
Penataan Lansekap Sederhana Namun Unik

Susunan Batu berundak dengan biopori di antaranya


Kristoporus Primeloka


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar