Senin, 21 Februari 2011

Revolusi dari Kota Solo...

Kompas, Selasa, 22 Februari 2011


Ribuan warga bertepuk tangan meriah, Minggu (20/2), tatkala kain putih selubung railbus Solo—kereta baru pengumpan Solo-Wonogiri—dilucuti. 

Luar biasa dan mengharukan! Sambutan warga tetap meriah di tengah guyuran hujan deras di Jalan Slamet Riyadi di pusat Kota Solo itu.

Railbus buatan PT Inka, Madiun, dengan dana dari Ditjen Perkeretaapian itu akan melayani jalur Solo-Wonogiri. Angkutan ini mengantar penumpang dari Wonogiri ke pusat kota.
Setelah itu, warga Wonogiri dapat transit di Stasiun Purwosari, Kota Solo, berlanjut dengan kereta lain menuju Yogyakarta, atau bahkan Jakarta atau Surabaya.
Solo. Inilah kota yang memilih mempertahankan transportasi massal ketimbang mengaspal rel kereta api seperti kota lainnya.
Dengan bijaksana, Wali Kota Solo Joko Widodo memilih mengucurkan uang rakyat untuk membeli bus tingkat wisata, yang bersama dengan railbus, diresmikan oleh Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono.
Bus tingkat ini mirip bus sightseeing, dengan atap terbuka seperti di Tokyo, Singapura, Madrid, atau kota dunia lainnya. Bus ini digunakan untuk melongok situs menarik di Solo dengan sepandangan mata.
Memang baru ada satu bus tingkat karena DPRD Kota Solo menolak alokasi anggaran lebih besar. Namun, tak mengapa, Solo tetap pionirnya, menjadi kota pertama dengan infrastruktur bus tingkat bagi turis yang mengunjungi kota itu.
Buruknya infrastruktur memang menjadi persoalan negeri ini, yakni bagi turis, terutama juga pebisnis, yang datang di suatu kota. Besar harapan, transportasi yang semakin prima mendatangkan pebisnis dan turis, dengan efek tumbuhnya perekonomian lokal. Dengan demikian, investasi Rp 16 miliar bagi railbus dan Rp 1,7 miliar bagi bus tingkat bisa balik modal sesegera mungkin. Setelah itu dana dapat digulirkan lagi untuk membangun transportasi umum lainnya.
Solo memang telah merajut mimpinya menjadi kota humanis, kota yang lebih baik bagi warganya. Jalur lambat di sisi selatan Jalan Slamet Riyadi, misalnya, telah diubah menjadi jalur pejalan kaki. Demikian pula trotoar dari Mangkunegaran menuju Jalan Slamet Riyadi juga diperlebar.
Tanpa gembar-gembor, Solo menolak mengekor kesalahan Jakarta dalam mengatasi kemacetan. Joko Widodo tidak ingin Solo seperti Jakarta yang menderita kerugian Rp 35 triliun per tahun. Ia tidak ingin warganya menjadi tua di jalan.
Lima belas unit Trans-Batik Solo kini dijalankan Pemerintah Kota Solo dengan konsisten. Sebelumnya, Pemkot Solo telah membangun area traffic control berbiaya Rp 21 miliar dalam lima tahun untuk mengontrol lalu lintas. Di masa depan akan dipasang variable message sign untuk menghindari kemacetan.
Kini, Solo juga mulai memimpikan trem seiring rencana pembangunan rel dari Gladak-Pasar Gede-Stasiun Jebres. Nantinya ada jalur loop Stasiun Purwosari-Slamet Riyadi-Gladak-Pasar Gede-Stasiun Jebres-Stasiun Balapan.
Boleh jadi, beberapa tahun mendatang kita sudah dapat naik trem di Solo, seperti trem Citadis di Barcelona, Madrid, Jerusalem, dan Istanbul. Kota menjadi lebih manusiawi, dengan berkurangnya emisi gas buang dan transportasi yang lancar.
Bagaimana revolusi transportasi dapat dimulai dari Solo?
Tentu saja ini berkat kepemimpinan Jokowi—sapaan akrab Joko Widodo. Sebagai pengusaha, dia mengerti betul betapa kelancaran perdagangan perlu didukung transportasi mumpuni dan betapa ekonomi suatu kota meningkat bila kota itu diminati untuk bermukim dan berusaha. Suatu kondisi yang dimungkinkan bila mobilitas orang-barang tanpa hambatan.
Jokowi juga mau mendengarkan ahli transportasi, seperti Djoko Setijowarno dari Unika Soegijapranata. Bila kota-kota lain ingin sehumanis Solo, tentu saja kini sudah ada laboratorium hidup Kota Solo. Datanglah ke Solo, pelajarilah, dan terapkanlah! (HARYO DAMARDONO)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar